Matatelinga - Jakarta, Elite Partai Demokrat terkesan ikut serius menanggapi soal isu penyadapan dan aksi spionase yang menimpa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri serta Gubernur DKI Jokowi. Padahal, polemik yang kian membesar akan merugikan partai berlambang Mercy itu dan malah menguntungkan PDIP. "Saya menyarankan tidak perlu menanggapi soal penyadapan, makin ditanggapi makin akan menguntungkan PDIP. Sebaiknya soal itu serahkan saja pada penegak hukum kepolisian untuk mengusut, politisi tak perlu ikut-ikutan," ujar Direktur Polcomm Institute Heri Budianto, Senin (24/2/2014). Semakin menjadi polemik, jelas Heri, maka akan semakin menaikkan simpati publik. Mestinya, kalaupun ingin menanggapi, jajaran Partai Demokrat ia sarankan lebih baik mendorong agar polisi bertindak. Bukan dengan caramembuat wacana politik baru. "Kita tahu, persepsi publik cepat mengarah ke positif jika ada tokoh yang muncul seolah-olah disakiti. Nah, kalau ramai-ramai menyerang, maka yang diserang akan semakin besar," papar Heri. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo beberapa waktu lalu mengatakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri diikuti intel. "Kita itu lagi diteror. Bayangkan, Ibu Mega diikuti Intel. Kemarin kita menangkap ada orang tiba-tiba masuk ke rumahnya alasanya mau kencing. Ini kan sudah kurang ajar," ungkap Tjahjo dalam peluncuran buku Petarung Politik Profil Capres-Cawapres Potensial 2014 di Kemang, Jakarta, Kamis 20 Februari lalu. Tak hanya itu, Tjahjo mengaku menemukan alat sadap di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). "Begitu juga Jokowi. Saat kita investigasi rumah dinasnya ditemukan tiga alat penyadap, di tempat tidur, ruang makan, dan kamar mandi," tegasnya. Lontaran ini pun ditanggapi nyinyir oleh Politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul. Menurut Ruhut tudingan pemerintah memata-matai aktivitas Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sama sekali tak berdasar. Tuduhan tersebut lahir akibat kader-kader PDI Perjuangan menanggung beban berat menjaga partainya tetap berada di puncak survei-survei nasional sebagai calon partai pemenang. "Sehingga mungkin PDIP dan kader-kadernya menjadi halusinasi," kata Ruhut saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu. Padahal, kata Ruhut, PDI Perjuangan sejatinya masih kalah dengan Partai Demokrat. Ruhut mengklaim Demokrat belakangan ini semakin dicintai rakyat dibanding partai-partai lain. "Kehadiran Pak SBY di mana-mana disambut jutaan eakyat. Di Jawa Barat, di Jawa Timur, Makassar, kalau SBY datang selalu disambut jutaan rakyat," ujar Ruhut menambahkan. Melihat fenomena ini, kata Ruhut, PDI Perjuangan menjadi kalang kabut. "Jadi dikarang cerita soal intelijen dan sadap-sadapan," ungkap Ruhut. Ruhut menegaskan, tidak mungkin ada intelijen yang memata-matai aktivitas Megawati. Ruhut menuding PDI perjuangan sedang memainkan politik lempar batu sembunyi tangan. "Intel kita hebat. Bukan intel melayu yang kelihatan membawa handy talky. Tidak usah lempar batu sembunyi tangan," ungkap Ruhut.(Okc/KNIA)