MATATELINGA, Jakarta: Gempa bumi-tsunami yang terjadi di Kota Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu meluluhlantakkan infrastruktur yang ada di sana. Akibatnya, banyak masyarakat yang terjebak di reruntuhan material bangunan yang hancur akibat guncangan gempa maha dasyat tersebut. Alhasil banyak korban yang mengalami patah tulang setelah mereka tertimpa di antara puing-puing bangunan.General Manager Komunikasi ACT, Lukman Azis Kurniawan menjelaskan, pasca musibah itu berlangsung, stok alat medis di sana terbilang sangat kurang untuk mengobati para korban yang harus menjalani operasi patah tulang. Karena itu, dibutuhkan bantuan alat medis yang banyak untuk memulihkan kondisi para korban. Pihaknya telah melakukan operasi patah tulang pada tungkai kaki sebelah kiri kepada salah satu korban yang selamat, kemarin."Obat-obatan dan alat medis (untuk melakukan) operasi yang dilakukan di RSUD Undata Palu," kata Lukman, Rabu (3/10/2018).Lukman merinci beberapa alat medis yang saat ini dibutuhkan di sana. Di antaranya adalah kantong mayat, kebutuhan operasi patah tulang, obat untuk penanganan luka terbuka atau tertutup dan ambulance untuk melakukan evakuasi korban."Kebutuhan akan air bersih dan logistik (juga dibutuhkan), selain obat-obatan dan alat medis," imbuh dia.Saat ini, lanjut dia, bantuan dari pemerintah dan seluruh lembaga sudah mulai berdatangan ke lokasi bencana, meski harus melewati antrian yang panjang. Namun, jumlahnya masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah korban. Ada beberapa kendala dalam pendistribusian bantuan lantaran sejumlah jalan yang rusak dan jembatan rusak parah."Namun bantuan masih sangat sedikit. Bantuan ACT sendiri kemarin bergerak dari Sidrap sekitar 1000 ton," terangnya.Seperti deiketahui, orban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah kian bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Selasa, 2 Oktober 2018 Pukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal yang berhasil ditemukan sebanyak 1.234 orang. Sementara itu, BNPB juga menerima laporan sebanyak 799 orang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Lalu, sebanyak 61.867 pengungsi tersebar di 109 titik yang ada di wilayah Palu dan Donggala.