Matatelinga - Jakarta, Calon presiden Konvensi Rakyat, Rizal Ramli, mengatakan, selama sepuluh tahun Indonesia masih berada dalam orde pencitraan. Hal ini ditandai dengan pencitraan pemerintah yang terlihat baik di media massa. Namun, pada kenyataannya di lapangan tak seperti itu. "10 tahun terakhir adalah orde citra, bagus di televisi seperti sinetron. Namun, 80 persen rakyat Indonesia masih miskin," kata Rizal, di Jakarta, Rabu (12/3/2014). Dia menambahkan, orde citra itu tidak mampu membangun apa yang sesungguhnya diharapkan masyarakat, misalkan saluran irigasi yang seharusnya bisa dimanfaatkan bagi pertanian, tapi tidak dibangun pemerintah. "Indonesia harus membangun orde kedaulatan yang berdaulat dalam segala bidang bukan orde citra," sambungnya. Rizal mengaku, saat ini masyarakat ingin demokrasi di Indonesia kembali dijunjung tinggi. Namun, keinginan tersebut terbentur dengan kekuatan uang. "Kita ingin Indonesia yang demokratis namun ketika demokrasi tiba malah dibajak kekuatan uang dan negara," tegasnya. Dia menerangkan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengubah keadaan bangsa, seperti sistem biayaan partai politik yang seharusnya dibiayai negara. Hal ini justru lebih baik ketimbang tiap tahun parpol korupsi APBN sebesar Rp60 triliun. "Pembiayaan partai oleh negara agar terwujud caleg yang intelek dan mampu membangun Indonesia," simpulnya. Kemudian, cara agar Indonesia bisa maju adalah ditingkatkannya penegakan hukum. "Tujuannya, agar demokrasi yang sedang berjalan memiliki manfaat bagi rakyat bukan hanya dinikmati pejabat dan politisi seperti yang terjadi saat ini," tuntasnya.(KNIA/Okz)