Matatelinga - Jakarta, Pakar Vulkanologi Surono mengatakan, aktivitas yang ditunjukkan Gunung Slamet di Jawa Tengah merupakan hal yang biasa. Masyarakat diminta tidak perlu panik."Itu aktivitas yang normal. Tidak ada keterkaitan antara gunung api satu dengan lainnya. Kalau memang berkaitan, mengapa Gunung Kelud tidak menularkan aktivitasnya ke Gunung Bromo yang lebih dekat," kata Surono dihubungi di Jakarta, Rabu.Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu mengatakan, media massa tidak perlu mengaitkan aktivitas gunung api satu dengan yang lain yang bisa menimbulkan kecemasan di masyarakat.Dia juga sempat menyatakan kekecewaannya terhadap pemberitaan media terhadap gunung api, termasuk tentang Gunung Slamet, yang cenderung mengheboh-hebohkan dan berpotensi meresahkan masyarakat."Aktivitas Gunung Slamet tidak ada kaitannya dengan Gunung Kelud maupun Gunung Sinabung. Aktivitas gunung api tidak seperti flu yang bisa menular," tuturnya.Terkait dengan catatan aktivitas Gunung Slamet, pria yang kerap disapa Mbah Rono itu mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap gunung api itu. Selama ini, aktivitas gunung tersebut relatif kecil karena hanya mengeluarkan material asap dan abu tanpa ada peningkatan panas atau lava.Catatan aktivitas Gunung Slamet masih di bawah Gunung Merapi yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Slamet, yang berada di wilayah Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga, dari level I atau normal menjadi level II atau waspada pada Senin 10 Maret pukul 21.00 WIB.Selain Gunung Slamet, ada beberapa gunung api yang berstatus waspada di berbagai daerah seperti Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci.(KNIA/Okz)