MATATELINGA, Bekasi: Dewasa ini masyarakat sudah tidak diasingkan lagi dengan pemandangan kaum hawa yang melakoni pekerjaan pria. Selain emansipasi wanita, tuntutan ekonomi juga menjadi salah satu penyebab utama kian bermunculannya fenomena ini.Dari sekian banyak profesi kaum pria yang juga dilakukan wanita khususnya emak-emak, profesi sopir bisa jadi yang paling banyak ditemui masyarakat saat ini, terutama pengemudi (driver) ojek online (ojol). Ojek berbasis aplikasi online ini diketahui memang sedang berkembang seiring meningkatnya peminat.Meski demikian, bukanlah perkara mudah bagi seorang wanita untuk menjalani pekerjaan kaum pria. Hal inilah yang juga dirasakan Widhia Janu Kusuma Dewie, wanita yang sudah dua tahun belakangan menggeluti profesi sebagai driver Gojek."Kurang lebih dua tahunan lah. Awalnya sih malu, tapi mau bagaimana lagi, sudah tuntutan hidup," kata Widhia saat ditemui Okezone di lokasinya mangkal, di samping Rumah Sakit Awal Bros, Bekasi.Warga Perumnas II, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat itu menuturkan, bahwa dirinya terpaksa mengambil keputusan menjadi driver ojol dikarenakan desakan ekonomi. Profesi suami yang juga seorang ojol, diakui Widhia tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Suami saya ojol juga. Penghasilannya ya kadang cukup, kadang enggak. Kalau nggak dibantu, ya kurang," ujar ibu beranak lima itu.Menurutnya, penghasilan yang didapat dari mengojek sekarang ini, tidaklah sebesar dulu. Kondisi ini membuatnya dan suami harus bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga."Untuk sekarang-sekarang ini minim banget ya. Enggak kaya tahun lalu, ojol itu bagus prospeknya. Enggak seperti sekarang. Ya paling sekitar dua jutaan sebulan," keluhnya. Perempuan 43 tahun itu biasa bekerja dari pukul 09.00 hingga 24.00 WIB. Ia harus terlebih dulu menunggu anak-anaknya pulang dari sekolah, untuk kemudian mengojek, bergantian dengan suami. Sering kali Widhia harus rela membiarkan tugas rumahnya terbengkalai, karena sibuk mengejar target."Ya terbengkalai juga sih. Pagi doang yang kehandle, sorenya nggak kehandle karena sudah sibuk ngebit dan berpoin," akunya.Selama menjadi driver ojol, banyak suka duka yang dialami Widhia. Duka yang dirasakan lebih kepada pelecehan dari tangan-tangan jahil penumpang pria yang diboncengnya. Meski mengganggu, namun ia tetap berusaha untuk profesional."Kan kita perempuan, suka dapat penumpang laki-laki yang iseng apa gimana gitu. Dengan dibonceng, tangannya pura-pura pegang pinggang apa gimana. Terus juga kalau lagi nggak ada orderan. Nunggunya lama banget, baru dapat," ungkapnya."Sukanya ya bisa menghilangkan penat dengan urusan rumah, anak, bisa ngebantu juga, bisa dapat teman banyak. Intinya semua pekerjaan itu harus disukai, harus dinikmati supaya kita enjoy nyari duitnya," paparnya. Ia berharap kehidupan para driver ojol bisa lebih diperhatikan oleh para penyedia layanan transportasi online, khususnya dalam hal penyediaan tarif. Para driver ojol menilai jika tarif yang diberlakukan saat ini semakin menurun dan berimbas pada pendapatan mereka."Harapannya lebih maju lagi lah, memperhatikan kesejahteraan driver, kaya dari tarifnya. Karena kan tarifnya semakin lama semakin turun," imbuhnya.Putri sulung Widhia yang bernama Salsabila, mengaku sedih dengan profesi yang terpaksa digeluti sang ibu demi menyambung hidup keluarga."Perasaannya sedih, tapi ya ada bangganya juga. Jadi ibu bisa bantu ekonomi keluarga, bantuin ayah buat adik-adik," katanya.Ia pun berharap agar ibundanya kelak mendapat pekerjaan yang lebih baik dan tentunya tidak beresiko seperti driver ojol. "Harapannya ibu kalau bisa jangan terus-terusan ngojek. Kalau bisa buka usaha sendiri atau apa gitu," imbuhnya.Di mata para tetangga, Widhia dikenal sebagai sosok yang rajin dan cekatan. Di tengah kondisi ekonomi yang memprihatinkan, ia rela banting tulang menjadi driver ojol membantu sang suami."Ya orangnya tuh rajin, ramah, terus cekatan juga," kata Apriyanto Putra, tetangga sekitar.Menurutnya, saat Widhia bersama suami bekerja, pekerjaan rumah dan lainnya diserahkan kepada anak yang sulung. "Ya yang jagain rumah anaknya," ujarnya.Meski melakoni pekerjaan kaum pria, namun tetangga selalu menyupport dan tak pernah mengecilkan Widhia dan keluarganya. Mereka bahkan berharap perekonomian rumah tangga Widhia dan suami bisa meningkat, melalui profesi yang dijalankan saat ini. (Mtc/Okz)