MATATELINGA, Medan: Saat menyampaikan orasi politik di hadapan dua ribuan kadernya pada Festival 11 PSI di Medan Internasional Convention Center (MICC), Ketua Umum PSI Grace Natalie menyindir partai-partai nasionalis namun ternyata malah paling banyak mendukung Perda Syariah. Bahkan Grace Natalie langsung menyebutkan dua partai nasionalis itu. Dia menyebutkan keduanya berkontribusi besar dalam terciptanya Peraturan Daerah (Perda) Syariah di sejumlah daerah di tanah air ini. "Bagaimana mungkin disebut partai Nasionalis, kalau diam-diam menjadi pendukung terbesar Perda Syariah," tutur Grace Natalie dalam orasinya, Senin (11/3/2019).Dia menyebutkan mengkritik dua partai pemenang pemilu tahun 2014, lalu berdasarkan tulisan Michael Buehler, Guru Besar Ilmu Politik Nothern Illinois University, dengan buku "The Politics of Shari'a Law". "Yang dari penelitiannya menyimpulkan keduanya terlibat aktif dalam merancang, mengesahkan, dan menerapkan 443 Perda Syariah di seluruh Indonesia. Penelitian Robin Bush juga menyimpulkan hal yang sama. Ini bukan saya lho yang bilang. Saya hanya membacakan kesimpulan riset ilmiah." jelas mantan presenter itu.Ia mengungkapkan bahwa PSI adalah sebuah gagasan baru dalam politik Indonesia, yang mendasarkan diri pada semangat membangun politik yang bersih, politik yang bekerja melayani rakyat, politik yang terbuka. Termasuk memberikan perlindungan hak masyarakat untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya."Kepada teman-teman partai Nasionalis, sudah saatnya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis," sebut Grace Natalie dihadapan ratusan orang dari Kader dan simpatisan PSI.Grace Natalie menyebutkan kembali PSI adalah generasi politik baru yang segar yang tidak ada kaitannya dengan Orde Lama maupun Orde Baru. Ia mengatakan pihaknya tidak ingin mengulangi kesalahan pada zaman itu."Kami memasuki politik dengan kesadaran penuh. Kesadaran bahwa kita, Indonesia punya peluang besar untuk jadi negara maju, dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah dengan menyelamatkan negeri ini dari para pencoleng uang rakyat, dari para fasis yang merasa dirinya paling suci dan maha benar, sehingga merasa berhak mendiskriminasi orang lain yang berbeda keyakinan," ungkap Grace Natalie.(mtc/fae)