*Membangun Silaturahmi Ulama dan Umara* *Rahudman Harahap*Ulama adalah guru para umara (penguasa). Ungkapan Imam al-Ghazali itu menjadi penting sebagai bahan renungan kita saat ini. Dalam kesempatan dalam sebuah diskusi tentang Silaturahmi Ulama dan Umara, Senin (4/4/2022) di Medan.Saya ingin menyampaikan bahwa menempatkan ulama sebagai guru bagi para penguasa menjadi penting. Hal ini agar peran ulama memberikan nasehat pada umara (pemerintah) dan umara mematuhi nasehat ulama, merupakan wujud dari silaturahmi kebangsaan.Imam al-Ghazali juga menegaskan bahwa hubungan yang ideal antara ulama dan umara adalah hubungan antara guru dan murid. Maka itu, idealnya, ulama memandang para penguasa dengan pandangan kasih sayang. Seperti guru atau orang tua yang menyayangi anaknya. Penguasa menghormati ulama karena pengetahuan mereka yang mendalam tentang aturan kehidupan.Dalam Surat An-Nisa 59 jelas disebutkan bahwa : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."Seperti dikatakan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar bahwa ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa tidaklah tepat mendikotomikan peran ulama dan umara.Ulama adalah representasi fungsi kenabian yang bertanggung jawab untuk menuntun masyarakat, termasuk pemerintah, agar tetap di atas jalan yang benar, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, al- 'ulama' waratsah al-anbiya' (ulama adalah ahli waris Nabi).Sedangkan, pemerintah (umara) adalah pemimpin eksekutif yang bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan, yang dalam menjalankan kepemerintahan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip yang dituntunkan para ulama.Semoga, silaturahmi ulama dan umara terus terjalin baik. Tak hanya sekedar cakap-cakap imitasi menjelang masa pilkada. Memanfaatkan para ulama sekedar sebagai alat mendulang dukungan dan simpati. Sungguh karena itu jauh melenceng dari nilai-nilai ajaran Islam.Rahudman Harahap, Walikota Medan 2010-2015