MATATELINGA:Kesalehan berarti ketaatan kepada Tuhan dalam menjalankan ibadah, kesungguhan menunaikan ajaran agama. Kesalehan Individu adalah hal yang menunjukkan hubungan antara kita dengan Tuhan dan Kesalehan sosial adalah hal yang menunjukkan hubungan kita dengan manusia dan sesama kita.Hablum minallah dikenal juga dengan istilah kesalehan individu atauibadah mahdhah. Hablum minannas dikenal dengan istilah kesalehan sosial atau ibadah ghair mahdhah .Kesalehan yang dipahami oleh mayoritas umat Islam adalah kesalehan yang bersifat individual, yaitu kesalehan vertikal antara manusia dengan Tuhan, padahal Islam sebagai agama yang damai memberikan berbagai ajaran-ajaran yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan sosial.Berbuat kebaikan tidak hanya terbatas dalam ritual ibadah antara manusia dengan Tuhan, tapi juga antara manusia dengan manusia dan juga lingkungan.Kita juga melihat masih terdapat ketimpangan yang tajam antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Banyak orang yang saleh secara individual, namun tidak atau kurang saleh secara sosial.Dalam Islam, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan suatu kemestian yang tak usah ditawar.[br]Keduanya harus dimiliki seorang Muslim, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Agama mengajarkan “Udkhuluu fis silmi kaffah ” bahwa kesalehan dalam Islam mestilah secara total. Shaleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan sesama manusia.Karena itu, kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari seperti ibadah ritualnya shalat dan puasanyanya, tetapi juga dilihat dari output sosialnya. Berupa sikap demokratis, menghargai hak orang lain, harmonis, memberi dan membantu sesama. Ini menunjukkan bahwa kebaikan seseorang tidak cukup dengan melakukan kesalehan untuk dirinya sendiri, tetapi akan lebih sempurna ketika ia melakukan untuk kepentingan masyarakat.Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu. Kedua ibadah tersebut merupakan kesatuan yang terpadu. Memisahkan salah satu dari keduanya bagaikan fatamorgana. Dalam Q.S. al-A’raaf ayat 96, Al Qur’an menggambarkan hubungan antara ketakwaan di satu sisi dan masyarakat di sisi lain.”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”Ibadah puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan ketakwaan ini tercermin dari 2 hal penting dalam kehidupan kita. Pertama adalah Kesalehan Individual, yang kedua Kesalehan Sosial. Kesalehan Individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya.Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta’dib dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa: takwa. La’allakum tattakun, Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.[br]Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya.Ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang kesalehan dari kata Shalaha dan derivasinya sebanyak 180 kali, 30 persennya dibarengi dengan kata keimanan (seperti alladzina amanu wa amilu al-shalihat). Ini menunjukkan bahwa keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh, keduanya ada selalu beriringan. Kesalehan tak terpisahkan dengan kesempurnaan iman, sebaliknya kesalehan tak berarti apa-apa tanpa dibarengi dengan keimanan.Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa kesalehan individual tidak bisa dipisahkan dengan kesalehan sosial."Kesalehan individual dapat diperoleh dari kebiasaan pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan seperti berpuasa, shalat tarawih, tadarus, dzikir, munajat, itikaf dan lain."Lewat bulan Ramadhan dapat mengantarkan umat Muslim menuju peningkatan derajat kesalehan secara paripurna seperti sabda Rasulullah SAW bahwa belum sempurna keimanan seseorang jika belum mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri."Semoga kita diberi hidayah, taufik, dan kekuatan serta keikhlasan untuk mengamalkannya. Amin ya robbal Alamin.Penulis:Syafrudin Hanafi Siregar-Ketua PC.Pemuda Muslimin Indonesia Kota Medan-Sekretaris MPI DPD KNPI Kota Medan-Bendahara Umum MD Kahmi Kota Medan-Pegawai PT.Bank Syariah Indonesia,Tbk