MATATELINGA, Malam 31 Desember 2025, rintik hujan kembali membasahi bumi. Bagi sebagian orang, hujan mungkin menjadi simfoni syahdu penutup tahun, namun bagi mereka yang melewati periode November hingga Desember 2025 dengan bayang-bayang cuaca ekstrem, setiap tetesan air yang jatuh membawa memori tentang waspada dan perjuangan. Kita baru saja melewati bulan-bulan yang menantang, di mana curah hujan tinggi menuntut ketangguhan fisik dan mental masyarakat di berbagai daerah.
Oleh: Yos A. Tarigan, SH, MH, M.Ikom
(Mahasiswa Program Doktor Hukum USU / Plt. Kajari Mandailing Natal)
Memasuki tahun baru, Januari 2026, doa kita bersama adalah hadirnya langit yang lebih cerah. Namun, harapan akan cuaca yang bersahabat tidak boleh membuat kita lengah. Pengalaman di penghujung 2025 harus menjadi guru terbaik dalam memperkuat mitigasi. Antisipasi dampak curah hujan bukan lagi sekadar wacana teknis, melainkan kebutuhan mendesak untuk meminimalisir risiko bencana di masa depan.
Baca Juga: Sambut Tahun Baru 2026, Wali Kota Medan dan Unsur Forkopimda Gelar Patroli Skala Besar, Pastikan Medan Aman Dalam situasi sulit ini, kita patut mengapresiasi gerak cepat Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran negara dirasakan melalui respons yang tangkas dan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap warga terdampak.
Sinergi ini juga terlihat nyata di tubuh Kejaksaan RI. Melalui instruksi Jaksa Agung, seluruh Kejaksaan Tinggi hingga Kejaksaan Negeri di daerah bergerak simultan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara cepat guna meringankan beban masyarakat.
Tahun 2026 harus menjadi tahun pemulihan—baik bagi alam maupun bagi masyarakat yang terdampak bencana. Di sinilah peran krusial Kejaksaan di daerah akan semakin dipertegas. Kejaksaan berkomitmen penuh melakukan pendampingan dan pengawalan hukum terhadap proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana.