MATATELINGA, Pengakuan seorang teman, di era serba teknologi sekarang lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan gawai atau handphone. Karena, saat ini hampir semua aspek kehidupan beralih ke ranah daring dan berada dalam satu genggaman, tak terkecuali dalam pengelolaan keuangan.
Oleh : James P. Pardede
Mulai dari menabung, membayar tagihan, hingga berinvestasi, semuanya kini bisa dilakukan lewat aplikasi atau digitalisasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tantangan yang tak kalah besar, yaitu kemampuan untuk memahami dan mengelola informasi keuangan secara digital, atau yang kita kenal sebagai literasi keuangan digital.
Tanpa adanya literasi keuangan, terutama kepada generasi millenial, maka mereka akan terjebak dengan pola hidup konsumtif atau lebih memilih pepatah 'besar pasak dari tiang' dan melupakan pepatah 'sedia payung sebelum hujan'.
Baca Juga: HPN 2026, Bank Sumut Buka Ruang Kompetisi Opini Jurnalis dan Apresiasi Media Secara sederhana, literasi keuangan digital adalah kemampuan seseorang dalam memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi serta layanan keuangan berbasis digital secara efektif, aman, dan bijak.
Tidak hanya soal tahu cara menggunakan aplikasi perbankan atau investasi, tetapi juga tentang memiliki pemahaman yang memadai untuk membuat keputusan keuangan yang tepat di dunia digital.
Ditengah gempuran teknologi serba digital, orang tua memiliki tugas tambahan untuk memberikan pemahanan dan edukasi tentang pentingnya budaya menabung sejak dini kepada anaknya. Bagi sebagian anak mungkin masih menggunakan pola konvensional dengan memasukkan uang ke dalam celengan. Tak sedikit pula anak zaman sekarang sudah melek dengan m-banking atau dompet digital.