MATATELINGA,*Ketegasan Negara dan Makna Pengiriman Pasukan Perdamaian Indonesia*_*oleh: Khairullah, S.I.Kom, M.I.Kom*_Gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa bukan sekadar peristiwa militer atau tragedi kemanusiaan, tetapi juga peristiwa politik dan diplomasi internasional yang harus dimaknai secara lebih dalam. Insiden tersebut harus menjadi momentum evaluasi pengiriman pasukan Indonesia ke wilayah konflik, terutama terkait perlindungan dan efektivitas misi perdamaian.Namun, di balik evaluasi tersebut, ada hal yang lebih mendasar, yaitu bagaimana negara menunjukkan ketegasan sikap dalam hubungan internasional demi menjaga kepercayaan publik _(public trust)._ Keikutsertaan Indonesia dalam misi perdamaian dunia selama ini bukan hanya kebijakan militer, tetapi merupakan simbol komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia sebagaimana amanat konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif.Dalam perspektif teori interaksionisme simbolik, setiap tindakan manusia atau kelompok memiliki makna simbolik yang dibentuk melalui interaksi sosial dan interpretasi bersama. Teori ini menjelaskan, bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka berikan terhadap suatu simbol atau tindakan, dan makna tersebut terbentuk melalui interaksi sosial.Dalam konteks hubungan internasional, pengiriman pasukan perdamaian Indonesia dapat dipandang sebagai simbol komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia, solidaritas internasional, serta posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam menjaga stabilitas global.Namun persoalannya, simbol tanpa tindakan nyata, dan tanpa perlindungan yang kuat dari komunitas internasional akan kehilangan maknanya. Jika pasukan perdamaian hanya menjadi simbol kehadiran, tanpa jaminan keamanan dan perlindungan internasional yang tegas, maka makna simbol tersebut akan berubah di mata masyarakat Indonesia. Dari simbol kebanggaan menjadi simbol pengorbanan yang tidak mendapatkan perlindungan yang layak dari dunia internasional.Di sinilah pentingnya ketegasan negara dalam diplomasi internasional. Negara tidak boleh hanya menyampaikan kecaman atau nota diplomatik, tetapi harus mendorong investigasi internasional yang transparan, menuntut pertanggungjawaban pihak yang menyerang pasukan perdamaian, serta memastikan adanya sistem perlindungan yang lebih kuat bagi pasukan penjaga perdamaian. Ketegasan ini penting bukan hanya untuk melindungi prajurit di medan tugas, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap kebijakan luar negeri negara._Public trust_ sangat penting dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan negara. Masyarakat akan mendukung pengiriman pasukan perdamaian, jika mereka percaya bahwa negara hadir dalam melindungi prajuritnya, memperjuangkan keadilan internasional, dan tidak membiarkan warganya menjadi korban konflik global tanpa perlindungan yang jelas.Pengiriman pasukan perdamaian seharusnya tidak hanya menjadi simbol partisipasi Indonesia di panggung dunia, tetapi juga harus menjadi aksi nyata putra-putri terbaik bangsa dalam menjaga perdamaian dunia. Namun sebagai konsekuensinya, dunia internasional melalui PBB juga harus menjamin keselamatan mereka. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi korban perang, karena mereka bukan pihak yang berperang, melainkan pihak yang menjaga perdamaian.Jika prajurit perdamaian justru menjadi korban konflik, maka itu bukan hanya tragedi bagi Indonesia, tetapi juga kegagalan sistemik perdamaian internasional itu sendiri. Oleh karena itu, Indonesia perlu bersikap lebih tegas dalam forum internasional, agar ada mekanisme perlindungan yang lebih kuat bagi pasukan perdamaian dunia.Pada akhirnya, pengiriman pasukan perdamaian harus dimaknai bukan hanya sebagai simbol politik luar negeri bebas aktif belaka, tetapi sebagai bentuk nyata kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia. Simbol tersebut harus diikuti dengan tindakan nyata, diplomasi yang tegas, perlindungan maksimal bagi prajurit, serta komitmen dunia internasional untuk melindungi mereka. Tanpa itu, pengiriman pasukan perdamaian hanya akan menjadi simbol tanpa makna, dan setiap gugurnya prajurit hanya akan menyisakan luka batin, tidak hanya bagi keluarga yang mereka tinggalkan, tetapi juga tentunya bagi seluruh rakyat Indonesia._*(Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMA)*