MATATELINGA - Hari ini, 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagai dasar negara dan falsafah bangsa, Pancasila seharusnya menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang kuat. Namun, di usia yang ke-81 tahun Pancasila, pertanyaan penting muncul: sejauh mana mahasiswa Indonesia hari ini masih menjadikan Pancasila sebagai inspirasi dan panggilan moral dalam berkontribusi bagi bangsa?
Pancasila lahir dari proses mendalam pemikiran para pendiri bangsa yang ingin menyatukan keragaman Indonesia. Nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial bukan hanya jargon, melainkan kontrak sosial yang seharusnya dihidupkan setiap generasi. Sayangnya, di kalangan mahasiswa, Pancasila kerap terasa sebagai pelajaran formal di kelas semata, bukan sebagai ideologi hidup yang menggerakkan tindakan.
Banyak mahasiswa saat ini lebih sibuk dengan urusan akademik, persiapan karir, dan konten media sosial. Isu-isu besar bangsa seperti korupsi yang sistemik, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, radikalisme, hingga pelemahan nilai-nilai kebangsaan sering kali mendapat respons yang minim dari dunia kampus. Padahal, mahasiswa seharusnya menjadi generasi yang paling peka terhadap penyimpangan dari semangat Pancasila.
Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Plh Walikota Tanjungbalai: Pancasila adalah Jangkar Moral Bangsa Sebagai generasi muda terdidik, mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk menghidupkan Pancasila di era kontemporer. Bukan dengan cara dogmatis atau ritual semata, melainkan melalui pendekatan yang cerdas dan kontekstual. Mahasiswa dapat menjadi garda depan dalam melawan korupsi dengan mendorong transparansi kampus dan pemerintahan, memperjuangkan keadilan sosial melalui advokasi isu kemiskinan dan pendidikan yang merata, serta memperkuat persatuan bangsa di tengah polarisasi identitas yang semakin tajam.
Di era digital saat ini, mahasiswa juga memiliki peluang besar untuk menjadi agen narasi Pancasila yang lebih efektif. Melalui riset berbasis data, kreasi konten yang berkualitas, diskusi lintas fakultas, hingga gerakan sosial berbasis komunitas, mahasiswa dapat menjadikan Pancasila sebagai solusi nyata atas berbagai masalah bangsa, bukan sekadar simbol upacara bendera.
Namun, realitasnya masih jauh dari harapan. Banyak kampus lebih menekankan pada pencapaian akreditasi dan ranking internasional daripada membangun karakter kebangsaan yang berlandaskan Pancasila. Akibatnya, lahir generasi sarjana yang cerdas secara akademik, tetapi kurang peka terhadap tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh mahasiswa Indonesia. Pancasila tidak akan hidup hanya dengan pidato dan upacara, melainkan melalui kesadaran dan tindakan nyata generasi mudanya. Mahasiswa harus kembali menemukan peranannya sebagai penjaga nilai-nilai luhur bangsa, penerus semangat kebangsaan, dan motor perubahan yang berkeadilan. Karena pada akhirnya, masa depan Pancasila ditentukan oleh seberapa serius kita menghidupkannya.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila Robi Barus Tekankan Perlunya Karakter Pancasila Pada Generasi Muda Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIPOL UMA
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila Sutarto : Harus Tercermin Dalam Kehidupan Bermasyarakat