MATATELINGA - Matahari baru saja meninggi di langit Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara ketika sebuah truk bermuatan penuh jagung pipilan kuning mengkilap menderu membelah jalanan.
Oleh: Yos A Tarigan, SH, MH, M.IKomDari kejauhan, sejauh mata mendongak, bukit-bukit di wilayah ini tampak seperti hamparan permadani hijau yang diselimuti semburat warna emas. Tigabinanga adalah sang raksasa agraris, lumbung jagung termasyhur di Sumatera Utara yang setiap tahunnya menyuplai ribuan ton kebutuhan pangan regional.
Baca Juga: Bisnis Bandar Sabu Digulung Personil Polsek Tigapanah Bagi orang asing yang kebetulan melintas, pemandangan ini adalah representasi sempurna dari kemakmuran bumi
Karo. Berada di ketinggian yang sejuk, tanahnya begitu subur, dan hasil buminya melimpah.
Namun, jika kita melangkah lebih dekat ke dalam ringkihnya dinding-dinding kedai kopi tempat para petani melepas lelah, narasi kemakmuran itu perlahan menguap, berganti menjadi kisah bertahan hidup yang penuh ketidakpastian.
Di balik kilau emas butiran jagung, ada "ilusi" kesejahteraan yang menjebak ribuan jiwa. Data di atas kertas milik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata pengeluaran warga di sini berkisar antara Rp1,3 juta hingga Rp1,5 juta per orang per bulan.
Angka yang secara teori menempatkan mereka aman di atas garis kemiskinan. Namun, mari kita bongkar isi dompet mereka. Nyatanya, lebih dari 66% dari uang yang pas-pasan itu habis tak bersisa hanya untuk urusan dapur dan mengisi piring makan sehari-hari.
Baca Juga: Antusias Masyarakat Cukup Tinggi Untuk Wujudkan Keamanan dan Ketertiban Melalui Binkom di Kodim 0205/TK Mereka menantang terik matahari setiap hari bukan untuk menumpuk tabungan masa depan, melainkan murni agar asap dapur tetap mengepul esok pagi. Akar masalahnya bermula dari siklus pendapatan musiman.
Menjadi petani jagung di Tigabinanga berarti harus siap menjadi "pesulap keuangan". Mereka tidak menerima upah bulanan layaknya pegawai kantoran. Uang besar hanya datang dua kali dalam setahun, yaitu saat musim panen raya tiba.
Lalu, apa yang terjadi di bulan-bulan sepi sebelum panen? Di sinilah ironi itu bekerja. Ketika uang tunai di tangan habis untuk membeli pupuk kimia yang harganya kian melambung, para petani terpaksa menghidupkan pola lama: "gali lubang tutup lubang".
Mereka mengutang kebutuhan pokok di kedai kelontong atau terpaksa mengetuk pintu rumah para tengkulak untuk mengambil uang muka modal tanam.
Baca Juga: Sholat Idul Adha 1447 H, Wali Kota Sibolga: Momentum Memperkuat Solidaritas dan Sinergi Pembangunan Ketika hari panen yang dinanti akhirnya tiba, senyum para petani sering kali getir. Sekarung uang tunai hasil penjualan jagung tidak mampir ke rekening tabungan bank atau menjadi modal sekolah anak ke perguruan tinggi.
Uang itu hanya lewat sebentar, mengalir lurus untuk melunasi tumpukan bon/utang masa lalu. Pola ini mengikat mereka layaknya lingkaran setan yang tak berujung.Sistem yang timpang ini pada akhirnya memelihara garis pemisah yang tegas antara mereka yang mengeruk untung dan mereka yang buntung.
Pihak yang UntungPara tengkulak dan agen modal. Mereka berdiri tegak di atas ketergantungan petani. Dengan memberikan pinjaman instan di masa-sabab sulit, mereka berhasil mengikat petani dalam kontrak mati: hasil panen wajib dijual kepada mereka dengan harga murah, jauh di bawah harga pasar bebas.
Baca Juga: Anggota DPRD Karo, Romanus Ginting Dari Fraksi Perindo Serahkan Hewan Kurban Di 3 Kecamatan Keuntungan ini juga dinikmati oleh pabrik-pabrik pakan ternak raksasa di luar daerah yang terus mendapat pasokan bahan baku murah dari keringat petani
Tigabinanga.
Pihak yang Rugi
Petani kecil dan buruh tani. Mereka adalah aktor utama yang paling lelah mencangkul, menaruh harapan pada benih, dan menanggung 100% risiko jika cuaca buruk atau hama menyerang lahan kering mereka.
Namun, saat panen sukses, mereka mendapat porsi keuntungan terkecil. Dampaknya, anak-anak petani juga rugi karena orang tua mereka tidak memiliki dana darurat.Di tengah peliknya rantai pasok ini, angin segar coba diembuskan oleh Pemerintah Kabupaten Karo di bawah kepemimpinan Bupati Antonius Ginting.
Baca Juga: Gerai KDMP Desa Raya Kecamatan Berastagi Hampir Rampung, Desa Siap Perkuat Ekonomi Warga Pemda mulai turun tangan mengintervensi sektor hulu. Ribuan kilogram benih jagung unggul kini dibagikan secara gratis langsung ke kelompok-kelompok tani untuk memotong modal awal agar petani tidak perlu lagi mengutang ke tengkulak.
Sadar bahwa Tigabinanga didominasi lahan kering tadah hujan yang rawan kekeringan, Bupati Antonius juga gencar melobi pemerintah pusat untuk menurunkan bantuan pompa air gratis. Di sektor hilir, pemda sedang merintis Kerja Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk membuka jalur perdagangan langsung ke luar provinsi, sebuah upaya memotong kompas rantai tengkulak yang berlapis-lapis.
Namun, bantuan benih dan pompa air hanyalah obat pereda nyeri sementara. Tubuh ekonomi
Tigabinanga membutuhkan operasi struktural yang lebih berani. Masa depan petani tidak boleh digantungkan pada harga jagung mentah yang fluktuatif.
Pemerintah desa melalui BUMDes harus didorong untuk membangun pabrik pakan ternak skala kecil di dalam kecamatan. Mengolah biji jagung mentah menjadi pakan ternak siap pakai akan melipatgandakan nilai jualnya berkali-kali lipat, dan uangnya akan berputar di dalam desa sendiri.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Pemadaman Listrik Bergilir, Polres Karo Gelar Patroli Gabungan Skala Besar Secara paralel, ketergantungan pada satu komoditas harus diakhiri. Petani perlu diajari teknik tumpang sari—menanam cabai, tomat, atau sayuran hortikultura di sela-sela tegakan pohon jagung. Tanaman sayur ini bisa dipanen setiap minggu, memberikan arus kas bulanan bagi petani untuk memenuhi kebutuhan dapur tanpa perlu lagi mengandalkan sistem bon ke tengkulak.
Ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal pun bisa dikikis perlahan dengan melatih petani membuat pupuk organik mandiri dari limbah kotoran ternak.Tigabinanga tidak boleh selamanya mengemban ironi sebagai daerah kaya yang petaninya hidup pas-pasan.Kesejahteraan sejati tidak diukur dari seberapa hijau hamparan ladang yang dilihat dari kaca mobil pejabat, melainkan dari seberapa tebal tabungan yang dipegang oleh jemari kasar sang petani. Sudah saatnya emas jagung Tigabinanga benar-benar membawa kemakmuran yang hakiki, memutus rantai eksploitasi, dan mengembalikan kedaulatan para petani di atas tanah Karo.
*) Penulis adalah putra daerah Tigabinanga, Karo dan sedang menempuh pendidikan S-3 Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Univeritas Sumatera Utara. Baca Juga: Penyidik Tetapkan SDT Komisaris PT QSS Sebagai Tersangka Perkara Dugaan Penyimpangan Pertambangan di Kalimantan Barat