Seorang teman saya, yang sedang membangun rumah kebingungan. Pasalnya, ia sudah menyiapkan bujet hingga Rp 500 juta untuk membangun rumah impiannya beserta isteri. Sungguh, ia tak mampu membayangkan hal-hal teknis untuk membangun sebuah rumah. Teman saya itu hanya seorang pedagang yang sehari-harinya bekerja di toko kecil miliknya. Setelah menabung bertahun-tahun, ia kemudian ingin membangun sebuah rumah kecil, dimana ia membayangkan menghabiskan sisa usianya bersama isterinya. Karena kesulitan membangun sebuah rumah, teman saya itu kemudian menemui teman saya yang lain, seorang arsitek dan ahli tata ruang interior. Ia kemudian meminta teman saya yang arsitek itu membuatkan gambar, sekaligus membuat perincian keuangan untuknya membangun sebuah rumah. Si arsitek dengan profesional memberi penjelasan pada temannya yang akan membangun rumah itu. Ia memberikan gambaran detail pekerjaan membangun sebuah rumah. Si kawan senang. Ia kemudian meminta agar secepatnya dilaksanakan. Sang arsitek dengan sangat profesional menjelaskan dibutuhkan biaya tenaga konsultan untuk menggambar serta membuat prakiraan untuk kebutuhan membangun sebuah rumah. Kawan saya yang ingin membangun rumah tak banyak cakap, langsung menyetujui. Ia bersedia membayar sejumlah uang sebagai jasa profesional untuk mewujudkan rumah impiannya. Ilustrasi diatas cukup layak disanding dengan kontestasi politik. Saat ini banyak calon atau yang ingin menjadi calon kepala daerah bermunculan. Sialnya, mereka muncul tanpa konsep, tanpa pendamping atau penasehat politik yang mumpuni. Akhirnya ya seperti yang sudah banyak terjadi. Uang habis, menjadi calon pun tidak. Persis keadaan jika teman yang ingin membangun rumah, nekad menggambar sendiri. Bisa dibayangkan letak jendela yang tidak simetris atau pintu rumah yang kemungkinan salah penempatannya. Maka itu, mutlak dibutuhkan pendamping dalam karir politik. Membangun image, menentukan segmen pasar pemilih potensial serta mengukur kekuatan harus dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional. Tanpa itu, yakinlah, para calon yang muncul cuma akan jadi dagelan atau hiasan kontestasi pemilihan kepala daerah. Aulia Andri, Electoral Intelligent Expert