MATATELINGA, Medan : Menyikapi wabah virus corona yang kemudian dikenal dengan Covid 19 membuat banyak orang angkat bicara. Namun satu yang pasti adalah tetap waspada dan jangan panik dalam menyikapinya. Berikut ini surat terbuka yang disampaikan Muhammad Mas'ud Silalahi yang diterima Matatelinga, Rabu (25/3/2020).Salam Pancasila untuk seluruh rakyat Indonesia. Perkenalkan nama saya Muhammad Mas'ud Silalahi putra kelahiran Medan - Sumatera Utara berdarah Batak Toba. Sudah beberapa hari bahkan beberapa minggu belakangan ini saya terus mengikuti, memantau dan menganalisa arus perkembangan dari media-media, apakah itu media cetak, media elektronik maupun media sosial tentang 'Covid-19' yang menjadi ancaman besar bagi dunia internasional saat ini. Saya mengecek satu persatu status korban kematian terkhusus yang ada di Indonesia, tapi saya tidak menemukan ada satu orang 'Kurang Waras' (Gila) yang mati terjangkit 'Virus Corona' atau yang trend disebut (Covid-19) itu. Padahal semestinya, jika merujuk pada himbauan pemerintah tentang cuci tangan, pola hidup sehat, memakan makanan bergizi dan seterusnya saya tidak pernah melihat satu orang gila dijalanan umum yang ia menjalankan pola hidup sehat, makanannya bergizi dan seterusnya seperti imbauan pemerintah. Artinya apa? Bahwa jika benar analisa dan pemantauan saya selama ini kalau tidak ada satu orang gila yang menjadi korban Covid-19 kita mesti curiga terhadap imbauan pemerintah bahwa seluruh imbauannya itu ternyata tidak memiliki dampak bagi pencegahan, penyebaran dan penularan terjangkitnya virus yang menggemparkan dunia internasional itu. [br]Mengapa? Karena sepanjang pengetahuan saya, hidupnya orang gila dijalanan itu ya tidak bersih, jangankan cuci muka dan tangan mandi saja hampir tidak pernah. Jika begitu, kita mesti belajar melakukan kegilaan dari 'Orang Gila' sehingga kita dapat terhindar dari jeratan mematikan Covid-19 itu. Bagaimana caranya? Ayo, kita tanyakan kepada orang gila terdekat seputaran rumah kita masing-masing.Saya katakan melawan resah karena banyak pejabat Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif ini yang suka 'Stel Gila' terhadap rakyatnya sendiri. Betapa tidak, baru saja melakukan Pilkada dan Pileg misalnya. Mereka menebar janji-janji suci, untuk perjuangan suci memperbaiki kondisi masyarakat, kondisi ekonomi, kondisi politik dan kondisi bangsa tapi faktanya bagaimana?Anda bisa menilai sendiri bagaimana kelakuan para pejabat-pejabat di daerah anda masing-masing dengan segudang janji dan sejauh mana mereka merealisasikan janji-janjinya. Bahkan tak jarang setelah terpilih jangankan untuk ingat, ketemu dijalan saja dan disapa banyak yang merasa angkuh alias 'Stel Gila' dan menyombongkan diri dengan kendaraannya yang difasilitasi oleh rakyat. Jadi sudahlah, jangan lagi melakukan intrik-intrik yang memicu rakyat semakin bosan, jenuh dan berakhir pada kedilematisan, kecemasan dan kepanikan global. Kalaupun ada skenario yang dibangun jangan terlalu menakut-nakuti rakyat, berilah dedikasi dan edukasi terhadap kami dengan baik. Kami yang awam ini butuh sosok pemimpin-pemimpin yang tidak suka melakukan 'Stel Gila' terhadap masyarakatnya.Saya bukan mau menyudutkan apalagi menyalah-nyalahi pihak manapun, ini hanya sebuah perlawanan terhadap keresahan akibat dari pergulatan pemikiran dan hati sanubari semata dalam melihat, memperhatikan serta menganalisa keadaan. Saya dapat beranggapan bahwa kita mesti belajar melakukan kegilaan dan belajar dari orang gila agar dapat terhindar dari Covid-19 yang sedang melanda dunia hari ini. Ya, tentu di sisi lain yang saya amati selama ini memang orang gila jarang berinteraksi terhadap orang lain apalagi saling berdekatan, mereka lebih cendrung beraktifitas seorang diri dalam kesehariannya. Tentu tanpa masker dan antiseptik ditangannya!