MATATELINGA, Mataram: Percepatan penggunaan kendaraan listrik menjadi strategi penting untuk menurunkan emisi sektor transportasi, meningkatkan efisiensi energi, dan memperkuat ketahanan ekonomi berbasis energi bersih.Di berbagai belahan dunia,
Pemerintah, industri, dan masyarakat semakin melihat kendaraan listrik sebagai kebutuhan baru untuk menjawab tantangan iklim, ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta tuntutan pembangunan modern.
Dalam konteks nasional, arah kebijakan energi semakin menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi mulai dari infrastruktur pengisian daya, insentif investasi, hingga penyediaan teknologi yang terjangkau.
Pergeseran ini tidak lagi sekadar tren teknologi, tetapi bagian dari transformasi struktural menuju mobilitas rendah karbon yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga: Kapal Induk AS Tiba di Karibia Dalam Persiapan Besar Besaran Perubahan ini menuntut daerah untuk mengambil peran aktif agar tidak tertinggal dalam arus besar transformasi energi.
Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menunjukkan langkah konkret dalam proses ini. Pemerintah provinsi menyiapkan kebijakan uji coba penggunaan kendaraan listrik untuk seluruh kendaraan dinas mulai Desember.
Inisiatif ini bukan sekadar pergantian armada, melainkan upaya memulai perubahan dari sektor publik, membangun contoh bagi masyarakat, serta menegaskan kesiapan NTB sebagai bagian dari gerakan nasional menuju kendaraan listrik.
Transformasi ini juga menjadi bagian dari upaya daerah membangun citra baru dari sekadar destinasi wisata, menjadi wilayah yang siap beradaptasi dengan masa depan energi bersih dan mobilitas berkelanjutan.
NTB ingin menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak harus dimulai dari pusat; daerah pun mampu mengambil langkah progresif yang berdampak luas.
Membangun ekosistem
Transisi kendaraan dinas hanyalah ujung dari proses panjang yang tengah dibentuk di NTB. Infrastruktur pendukung tumbuh secara agresif. PLN Unit Induk Wilayah NTB telah menghadirkan 40 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di Lombok, Sumbawa, hingga Bima.
Infrastruktur ini masuk hingga ke titik yang menjadi pusat mobilitas masyarakat seperti pusat perbelanjaan, hotel, kantor pemerintahan, hingga kawasan wisata.
Data penggunaan SPKLU menunjukkan pola menarik. Dua lokasi pengisian yang paling banyak dipakai berada di Hotel Santika dan Lombok Epicentrum Mall.
Tingginya penggunaan di dua titik tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik perlahan menjadi bagian dari rutinitas mobilitas warga, sekaligus mulai hadir dalam arus utama aktivitas publik.