Kehadiran para pemangku adat Simalungun, Tumpuan Damanik Boru Panoggolan Siantar-Simalungun dan ahli waris Raja Siantar turut mempertegas nuansa kearifan lokal dalam acara.
Bupati Anton Saragih menegaskan, bahwa ziarah ini bukan sekadar rutinitas budaya semata, melainkan bentuk penghormatan sekaligus pengingat mendalam bagi generasi tentang nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan pengorbanan besar para leluhur dalam mendirikan serta membangun tanah Simalungun."
Ziarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi pengingat akan nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan pengorbanan para leluhur dalam membangun tanah Simalungun," ujar
Bupati.Lebih lanjut,
Bupati Simalungun berharap, melalui doa dan ziarah yang dilakukan, seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan senantiasa mendapatkan berkah."Semoga melalui ziarah ini, kita semua memperoleh berkah, semakin memperkuat kecintaan terhadap sejarah dan budaya, serta menumbuhkan semangat untuk terus melanjutkan perjuangan demi kemajuan Kabupaten Simalungun yang kita cintai," pungkasnya.Penutupan rangkaian ziarah Raja Marpitu di Bengkalis ini menjadi momentum penting untuk mengokohkan jati diri dan semangat kebersamaan dalam menyambut 193 tahun perjalanan Kabupaten Simalungun.Usai ziarah,
Bupati Simalungun dan rombongan menyempatkan diri mengunjungi lokasi penjara tempat pengasingan Raja Sangnaualuh Damanik. Penjara Belanda tersebut bernama Jail Huis Van Behauring.Hadir mendampingi
Bupati Anton, Plt (Pelaksana Tugas) Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Rinton Damanik, Kepala BPKSDM Jhon Rismantua Damanik, Kadis Budparekraf Frengki Purba, Kadis PUTR Hotbinson Damanik, Plt Kadis Pendidikan Friz Ueki Damanik, serta Plt Kadis Kominfo Akbar P. Siregar. (sip)