Kerusakan terjadi di Jembatan Idanotae, yang berada di Kecamatan Ulu Idanotae—akses vital penghubung menuju Kecamatan Umbunasi.Kondisi lumpuh total
jembatan ini dilaporkan warga pada Jumat, 17 April 2026, setelah kerusakan semakin parah dan tidak memungkinkan dilalui kendaraan.Masyarakat dari dua kecamatan menjadi pihak yang paling terdampak, terutama petani, pelajar, dan warga yang membutuhkan akses layanan kesehatan.Kerusakan diduga akibat usia konstruksi yang sudah tua dan minimnya perawatan, sehingga struktur kayu mengalami pelapukan hingga tidak lagi mampu menahan beban.
Dampak kerusakan ini sangat signifikan. Warga terpaksa mendorong sepeda motor secara manual saat melintas, sementara kendaraan roda empat tidak dapat melewati jembatan sama sekali.Dalam dokumentasi yang diterima, terlihat sebuah mobil pikap tertahan di ujung jembatan karena akses tidak memungkinkan.Seorang warga mengungkapkan kesulitannya:"Kita mau bawa hasil kebun susah, anak sekolah takut jatuh, kalau ada yang sakit mau dibawa ke puskesmas juga terhambat. Jembatan ini satu-satunya jalan," ujarnya.Jembatan Idanotae selama ini menjadi urat nadi perekonomian warga, jalur distribusi hasil pertanian, akses pendidikan bagi pelajar, hingga jalur penting menuju fasilitas kesehatan.Desakan kepada pemerintahMenyikapi kondisi tersebut, masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk segera mengambil langkah konkret, baik berupa penanganan darurat maupun pembangunan jembatan permanen.Warga khawatir, jika tidak segera ditangani, akses antar desa akan terputus total, terutama saat musim hujan yang dapat memperparah kerusakan.
Baca Juga: Mutasi di Jajaran Kejati Sumut, Edmond Purba jadi Kajari Karo Gantikan Posisi Danke Rajagukguk Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten
Nias Selatan belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana perbaikan atau pembangunan ulang Jembatan Idanotae.Kondisi ini menambah kekhawatiran masyarakat yang kini harus menghadapi risiko keselamatan setiap kali melintasi
jembatan, sekaligus ketidakpastian kapan akses vital tersebut dapat kembali normal.(YARNIMAN SADAWA)