"Kenapa sekarang macam betul cakap Ferdinand ini, seolah sebagai pengamat dalam menanggapi pidato Ketua Umum Demokrat saat hari ulang tahun Partai ke 25, ini namanya meludah keatas," kesalnya.Kritik terhadap pidato AHY merupakan hal yang sah dalam kehidupan demokrasi. Akan tetapi dalam menyampaikan kritik itu secara objektif, berbasis argumentasi, serta tidak ditarik ke arah kepentingan politik praktis.
"AHY ini kan sosok pemimpin muda masa sekarang dan masa depan. Seharusnya FH tidak menyangkut pautkan dengan 2029 karena itu masih lama, membuat penilaian-penilaian yang tendensius serta membangun kegaduhan politik itu tidak baik dipertontonkan," terang Sahala Pohan yang juga Putra Asli asal Sumatera.
Lebih jelasnya, Sahala menirukan pidato AHY yang menurutnya masih normatif dalam pidatonya, "kekuasaan bukan milik seorang untuk selamanya, kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu, para pejuang demokrat diseluruh tanah air, kekuasaan datang dan pergi, jabatan ada waktunya, pemilu memiliki siklusnya tetap tanggung jawab kepada rakyat tidak pernah selesai".Disisi lain AHY sebagai Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Kabinet Merah Putih dinilai komitmen dalam mewujudkan program kerjanya untuk mendukung pencapaian visi dan misinya Presiden Republik Indonesia dalam periodenya.
Baca Juga: “Imigrasi untuk Rakyat”, Imigrasi Jakarta Utara Hadirkan Pasporia Dekatkan Layanan Paspor kepada Masyarakat "Kami acung jempol kepada AHY yang tidak basa basih dalam mendukung pemerintah dibawah pimpinan Prabowo Subianto. Melainkan kerja nyata dalam bertindak dan bukan membual untuk menjilat," tegas Hamdan.Melihat kondisi bangsa saat ini fokus mengurus karhutla, penanganan gunung meletus serta fokus menjalankan program-program kerakyatan dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Harus didukung dan dikawal dalam memastikan program tersebut berjalan secara maksimal, harapnya.