Katanya, tiga poin tersebut, merupakan bagian dari bentuk pengawasan guru, menjaga kualitas dan keamanan pangan, dari setiap omprengan yang diberikan kepada anak didik.
Menurut dia, di sekolah yang dipimpinnya, sudah ada sejak awal program MBG di luncurkan di Kabupaten Labuhanbatu, ditunjukpetugas penanggung jawab, atau guru di sekolah yang melakukan uji cepat sebelum makanan dibagikan.
Baca Juga: Belum Kering Air Mata Korban Sebelumnya, Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi di Karo "Pengawasan ini dilakukan menggunakan panca indra, dengan memeriksa aspek warna, aroma, rasa dan tekstur makanan untuk mendeteksi potensikemungkinan terjadinya kerusakan atau makanan basi", jelasnya.
Selain itu, di sekolah ini dilakukan pengawasan distribusi dan ketepatan waktu. Petugas pengawasan menu makanan, memastikan makanan dikirim dan diterima, dalam kondisi baik, terjaga kebersihannya, serta tepat waktu sampai, sesuai jadwal istirahat siswa.
Baca Juga: DPD PDI Perjuangan Sumut Desak Penanganan Cepat Siswa MTsN 2 Kisaran, Jangan Ulangi Kasus Karo Kemudian, alur distribusi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke ruang kelas dipantau agar tertib dan higienis.
Selanjutnya, pengawasan pelaksanaan dan edukasi gizi kepada anak didik.
Baca Juga: Geger!!!! Santap MBG, Puluhan Siswa MTSN 2 Kisaran Keracunan "Guru memantau keterlibatan siswa, saat mengonsumsi makanan, mulai dari penerapan protokol kebersihan (seperti mencuci tangan), tata cara makan yang tertib, pengelolaan sampah organik sisa makanan, hingga memanfaatkan momentum makan bersama, sebagai sarana edukasi pola makan sehat", jelasnya.
Keterlibatan guru dalam mengawasi MBG, tidak boleh menggangu tugas pokoknya, sebagai tenaga pendidik di sekolah. Tegasnya, pengawasan diberikan kepada guru, yang menjalankan tugas piket.
Baca Juga: Sutrisno Pangaribuan Sebut Pengiriman Korban Keracunan MBG Karo ke Jakarta Tak Punya Urgensi Medis Dan alhamdulillah, selama program MBG bergulir, di SD Negeri 09 Rantau Utara, belum menemukan adanya hal-hal yang tidak diinginkan.
Terakhir, selain pengawasan, kami dari pihak sekolah sebagai penerima layanan MBG, selalu melakukan komunikasi dengan pihak Kepala SPPG. Kami menyampaikan keluhan anak didik, terkait menu yang disajikan dalam MBG.
Jadi selama ini, tidak ada isi omprengan yang tidak dimakan anak didik. Nyaris habis, menu yang diberikan.
Baca Juga: Ketua GPM Sumut Kecam Pernyataan Oknum Pejabat Terkait Dugaan Keracunan MBG di Labura Kehadiran MBG, sangat dibutuhkan anak didik. Karena ada sekitar 50 persen anak didik yang bersekolah di SD Negeri 09 Rantau Utara ini, merupakan berasal dari keluarga kurang mampu. Sebelum MBG ada, diantara mereka, ada yang tidak makan dari rumah dan tidak diberi jajan orangtuanya.
"Harapan kedepan, MBG berlanjut, pengawasan di sekolah tetap berlanjut, komunikasi dengan kepala SPPG tetap lancar", urai Syaiful Amri mengakhiri percakapannya.
Baca Juga: Social Action Tujuh Dekade Asuransi Astra : Karena Cerita Hari Ini Akan Menjadi Sejarah Di Masa Yang Akan Datang