Namun, lanjutnya, hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah terkonfirmasi.
"Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap memerlukan verifikasi lapangan", tegasnya.
Baca Juga: Ini Cara Menanggulangi Kabut Asap Di Toba BMKG juga menjelaskan, bahwa hotspot dapat tidak terdeteksi apabila wilayah tertutup awan, atau berada pada area yang tidak teramati satelit.
Untuk wilayah Rantauprapat/Labuhanbatu, sebutnya, kemungkinan asap berasal dari aktivitas lokal maupun kiriman dari wilayah lain, masih perlu dianalisis berdasarkan arah dan kecepatan angin, serta pergerakan sebaran asap dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Dinkes Medan Imbau Warga Waspadai Virus Influenza A Hal ini, karena pada saat yang sama sebaran asap memang terpantau di Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan.
Ditambahkannya, BMKG mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera pada Rabu 7 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB.
Baca Juga: Senin, Sumut Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Sedang Berdasarkan citra satelit Himawari-9, asap terdeteksi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.
"Sebaran asap tersebut, terpantau bergerak ke arah barat laut, hingga timur laut, mengikuti kondisi angin di wilayah Sumatera dan sekitarnya", demikian disampaikan Putri AFriza, Forecaster on Duty BBMKG Wilayah I Medan