Ditandai Pelepasan Merpati, Menpar Resmikan The Kaldera Toba Nomadic Escape

- Kamis, 04 April 2019 20:53 WIB
Mtc/ist
Menteri Pariwisata Arief Yahya resmi membuka The Kaldera – Toba Nomadic Escape, Kamis (4/4) sore. Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pelepasan burung merpati. Menpar optimis The Kaldera akan menjadi nomadic amenitas.
MATATELINGA,  Tobasa: Menteri Pariwisata Arief Yahya resmi membuka The Kaldera - Toba Nomadic Escape, Kamis (4/4/2019) sore. Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pelepasan burung merpati.  Menpar optimis The Kaldera akan menjadi nomadic amenitas.

Kehadiran Menpar di The Kaldera, disambut dengan Tari Tor Tor dan balutan kain Ulos. Ada juga aksi berbalas pantun. 

Menpar datang bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara, Staff Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono, juga Ketua Tim Percepatan 10 Bali Baru Hiramsyah S Thaib. Hadir juga kepala daerah sekitar Danau Toba, dan tamu undangan lainnya.

Rombongan ini diterima Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo, dan Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Waizly Darwin.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, lahan The Kaldera bahkan lebih luas dari KEK Nusa Dua dan Tanjung Kelayang.

"Jadi harus dipahami. The Kaldera Toba Nomadic Escape itu berada di kawasan Toba Caldera Resort. Dan lebih luas dari Nusa Dua dan Tanjung Kelayang," terang mantan Dirut PT Telkom itu.

Menpar juga menjelaskan menjelaskan alasan membangun nomadic tourism di kawasan Danau Toba.

 

"Tentu ada alasan mengapa kita bangun The Kaldera ini. Saya menyebutnya sebagai nomadic tourism. Artinya bisa berpindah pindah. Kenapa bisa berpindah? Karena membangun amenitas yang tetap itu butuh waktu yang cukup lama," tuturnya. 

Dijelaskannya, membangun sebuah amenitas seperti hotel berbintang butuh waktu hingga lima tahun. "Dan mungkin saya tidak akan menikmati hasil dari pembangunan itu. Karena butuh watu lama. Sebagai solusi, kita hadirkan nomadic tourism. Saya yakin solusi ini untuk selamanya," paparnya.

Dengan karakternya, The Kaldera dinilai sangat cocok untuk menerapkan nomadic amenitas.

"Jadi, kita membuat klasifikasi untuk wisata nomadic ini. Seperti nomadic atraksi kita terapkan di Borobudur. Di Labuan Bajo, kita buat nomadic akses. Karena disana dilengkapi dengan yacht dan lainnya. Tantangan The Kalder adalah membuat atraksi di luar The Kaldera. Dan ini menjadi tugas Kepala BPDOT," katanya.

Menpar asal Banyuwangi itu juga memberikan contoh nomadic tourism yang namanya sudah sangat populer. Namanya, Cikole Orchid Forest di Lembang, Jawa Barat. 

"Fokus Orchid Forest adalah nomadic attraction. Karena, di sana ada acara live musik seperti Forchestra," jelasnya. 

Dalam kesempatan itu, Menpar juga berharap Danau Toba bisa lebih menjual. Dan cara yang paling mudah adalah memakai 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas).

"Harus ada atraksinya. Kalau Kita ingin menjadikan Danau Toba destinasi utama, maka 3A harus kelas dunia. Yang ada saat ini baik atraksi budaya, manmade, alam semua bagus, belum mendunia," katanya.

Dijelaskannya Kemenpar sedang fight agar Danau Toba dapat sertifikat sebagai Unesco Global Geopark. Menurutnya, Kemenpar akan terus berupaya agar Danau Toba mendapatkan status Unesco Global Geopark. (mtc/fae)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Hutama Karya, Siapkan Rest Area Baru di Tol Kutepat, Perjalanan Menuju Danau Toba

Berita Sumut

15 Tahun Matatelinga : Sampai Hari Ini Kami Masih Setia Menjadi Penyampai Informasi Aktual dan Terpercaya

Berita Sumut

Irjen TNI Berikan Briefing kepada Pati Mabes TNI Bahas Berbagai Isu Terkini

Berita Sumut

Jaga Kelestarian Alam & Lingkungan, Bupati Buka Festival Sungai Asahan

Berita Sumut

Jangan Lewatkan Pertandingan Arsenal vs Manchester City di Community Shield

Berita Sumut

Gaya Hidup Sehat Remaja: Kunci Menciptakan Generasi yang Produktif dan Berkualitas