Matatelinga - Doha, Inti dari permasalahan di industi dirgantara ini masih pada sistem unik atas mayoritas kepemilikan perusahaan penerbangan serta perjanjian bilateral.Industri penerbangan dunia diproyeksi akan menghasilkan USD13 miliar, setara dengan Rp152,85 triliun (kurs Rp11.758 per USD)pada tahun ini. Walau demikian, dalam pertemuan International Air Transport Association (IATA) di Doha pada awal pekan ini, dikemukakan margin keuntungan airlines tetap tipis dan pelaku industri masih harus berjuang untuk menutup modal yang sudah keluar."Sebagai pelaku industri, kami berharap bisa seperti sektor lainnya, yakni kami bisa membeli dan menjual tanpa ada batasan, termasuk merger," kata Direktur Jenderal IATA Tony Tyler dalam pertemuan di Doha, dilansir dari Reuters, Selasa (3/6/2014)."Setelah beroperasi selama 100 tahun, kami belum menemukan cara mengekselerasikan aturan pemerintah untuk melakukan hal tersebut (kepemilikan mayoritas di suatu negara)," jelasnya.Industri penerbangan sudah berlangsung selama 100 tahun. Di mana pada awal tahun 1914, penerbangan komersial pertama telah dilakukan dari St Petersburg, Florida.(Okz/Mt)