Matatelinga - Jakarta, Saat itu, negara memang tengah membanggakan kinerja ekonominya. Pada tahun 2007 lalu, Brasil mendapat kehormatan dengan ditunjuk menjadi tempat diselenggarakannya FIFA World Cup 2014. Saat itu, ekonomi Brasil tumbuh sampai 4,5 persen berkat kencangnya investasi asing yang masuk. Inflasi di bawah kendali pemerintah, dan nilai mata uangnya terus menguat.Tak hanya itu, gap antara si kaya dan si miskin juga sangat tipis. Saat itu, Brasil menjadi sangat potensial.Sebaliknya, per Mei 2014, tingkat kepercayaan konsumen anjlok. Ekonomi Brasil juga terkontraksi secara kuartalan (pada kuartal I-2014 dibanding kuartal IV-2013) untuk pertama kalinya sejak krisis finansial tahun 2008-2009.Dan dua pekan menjelang event sepak bola terbesar di dunia tersebut, Brasil terancam kekacauan akibat penolakan pegelaran World Cup tersebut.Sebenarnya, apa yang terjadi?Pihak yang paling bisa disalahkan adalah mantan presiden Brasil, Luis Inacio Lula da Silva. Megalomania yang sangat ambisius. Dia melobi secara personal agar World Cup diselenggarakan di Brasil, dan tujuan agar dunia melihat seberapa majunya negara ini.Sayangnya, da Silva melupakan hal yang paling penting. Cara paling tepat untuk menunjukan Brasil sebagai negara yang maju adalah dengan memberikan warga negara kedudukan sosial yang lebih baik, termasuk mendukung ekonomi kerakyatan. Juga menjamin kebebasan berpolitik.Dalam hal penyediaan tenaga kerja, Meksiko jauh lebih baik. Diproyeksikan, Meksiko akan mengambil gelar negara di Amerika Latin dengan perekonomian terbesar dari Brasil pada tahun 2022.Tapi Da Silva lebih memilih menyelenggarakan World Cup dengan nilai mencapai miliaran dolar, yang sebagaian besar dananya berasal dari pajak yang dibayarkan warga negaranya. Dan parahnya, seperti dikutip Forbes Selasa (3/6/2014), dia menunjuk salah satu lembaga paling korup untuk menggarap acara bertaraf international ini.Dana yang dikeluarkan Pemerintah Brasil dalam penyelenggaran Piala Dunia ini mencapai USD11,7 miliar. Sekira USD4 miliar untuk membuat 12 stadion baru dan merenovasi stadion lama.Biaya ini lebih dari tiga kali dari biaya yang dialokasi pada rencana awal. Dan menjadikan penyelenggaran di Brasil ini menjadi World Cup termahal yang pernah ada.(Okz/Mt)