Matatelinga - Jakarta, Potensi logam tanah jarang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan China sanggup membeli puluhan juta per kilogram. "TINS rekomendasi Buy di target harga Rp1.900,"PT Timah Tbk (TINS) memiliki return on equity (RoE) yang cukup tinggi. Selain itu TINS adalah produsen timah dunia terbesar di dunia.Hal tersebut membuat harga komoditas timah dunia bisa secara tidak langsung dikendalikan oleh TINS dengan mengendalikan jumlah timah yang diproduksi olehnya.Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe mengatakan, TINS terlihat berusaha fokus pada bisnis timahnya. "Bahkan setelah kandungan timah di daratan Bangka Belitung mulai habis, TINS mulai melakukan penambangan timah di lepas pantai / lautan lepas di sekitar Bangka Belitung," ujarnya, Jakarta, Rabu (4/6/2014).Selain itu, lanjutnya, belakangan TINS juga ingin melakukan penambangan timah baru di Myanmar atau Burma. TINS juga memiliki potensi untuk menjadi produsen tambang Logamtanah jarang (rare earth minerals)."Karena limbah tambang timah TINS ternyata banyak mengandung rare earth minerals yang masih disimpan oleh TINS dan belum diolah untuk dijual ke luar negeri. Rare earth minerals dibutuhkan dunia sebagai bahan baku sell dalam baterai HP, baterai laptop, dll," ujarnya.Menurutnya, TINS ke depannya akan bisa memiliki potensi sebuah bisnis baru yaitu menjadi produsen tambang logam tanah jarang / rare earth minerals. Logam tanah jarangmerupakan mineral langka yang cukup diminati negara asing sebagai bahan baku untuk peralatan vital seperti baterai HP, baterai laptop, alat pelacak dan peralatan perang lainnya.(Okz/Mt)