Matatelinga - Tokyo, Dolar Amerika Serikat (AS) hanya terpaut 0,2 persen dari level tertinggi empat bulanan terhadap euro, karena adanya spekulasi the Federal Reserve akan mengurangi pembelian obligasi bulanan lebih lanjut, setelah Bank Sentral Eropa bulan ini menurunkan suku deposito di bawah nol. Nilai euro mengalami kerugian dibandingkan sebagian besar mata uang negara maju lainnya, sebelum data yang diperkirakan akan mengkonfirmasi inflasi di kawasan tersebut melambat. Hal ini Cenderung meningkatkan kasus tambahan stimulus moneter untuk merendahkan mata uang.Mata uang Paman Sam turut menguat, seiring melemahnya komoditas, setelah harga minyak naik ke level tertinggi sembilan bulan di tengah kerusuhan yang meningkat di Irak. Europan Central Bank (ECB) sendiri, diperkirakan tidak banyak membuat kebijakan."Ada sinyal cukup kuat jika ECB tidak bisa berbuat lebih banyak. Dalam skala ini, pelonggaran kuantitatif akan memiliki dampak pada euro dalam jangka menengah, terutama jika secara mengejutkan mereka (ECB) mengeluarkan beberapa tindakan yang lebih drastis," kata ekonom George Bank Ltd, Janu Chan, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (16/6/2014).Euro sedikit berubah pada USD1,3535 per euro setelah menyentuh USD1,3503 per euro, terendah sejak 6 Februari. Mata uang bersama Eropa turun 0,1 persen menjadi USD138 per yen melengkapi penurunan mingguan 1,2 persen. Sementara dolar AS tergelincir 0,1 persen menjadi 101,95 per yen Jepang. Para pembuat kebijakan telah memangkas suku bunga deposito menjadi minus 0,1 persen pada 5 Juni dan menurunkan tingkat refinancing utama ke rekor 0,15 persen dan mengumumkan langkah-langkah kebijakan termasuk target pinjaman jangka panjang. The Fed akan pada bertemu 17-18 Juni. Dalam pertemuan tersebut, the Fed diperkirakan mengurangi pembelian obligasi bulanan sebesar USD10 miliar untuk empat pertemuan berturut-turut sampai USD45 miliar. (Okz/Mt)