MATATELINGA, Medan :Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) menegaskan bahwa ketersediaan beras dalam jumlah besar di berbagai gudang milik negara bukanlah praktik penimbunan untuk mencari keuntungan pribadi.
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa penyimpanan stok dalam skala besar merupakan bagian dari mandat resmi pemerintah yang disebut sebagai "pemupukan stok".
Kebijakan ini krusial untuk menyediakan cadangan strategis guna menghadapi situasi darurat atau kondisi kahar (force majeure), seperti bencana alam, kerusuhan, hingga ancaman krisis global.
Baca Juga: Bulog Sumut Perkuat Penyaluran Beras SPHP, Capai 34.423 Ton "Pemerintah memang ditugaskan untuk menyimpan pangan. Masyarakat kerap menyebutnya 'menimbun' yang berkonotasi negatif. Padahal bagi kami, bahasanya adalah pemupukan stok. Stok ini ditahan dalam jumlah tertentu untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga, seperti bencana alam," ujar Budi di Medan, Kamis (20/8/2026).
Budi menegaskan, Bulog tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan stok
beras tersebut secara sembarangan, kecuali atas mandat langsung dari pemerintah.
Belajar dari Kasus Isolasi Sibolga dan TaptengSebagai bukti pentingnya manajemen risiko, Budi membagikan pengalaman saat wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) sempat terisolasi total akibat bencana. Saat itu, akses darat lumpuh total tertutup longsor, sementara jalur laut tidak bisa ditembus karena gelombang tinggi.
Baca Juga: Bulog Sumut Perkuat Penyaluran Beras SPHP, Capai 34.423 Ton Kondisi tersebut sempat memicu kepanikan warga (panic buying), kelaparan, hingga berujung pada pengambilan paksa stok
beras di
gudang utama Bulog oleh masyarakat. Kendati demikian, sistem mitigasi risiko dan Contingency Plan (rencana cadangan) yang diterapkan Bulog berhasil mengantisipasi keadaan terburuk.
"Waktu itu, di gudang utama habis diambil paksa. Tetapi, kami masih memiliki stok cadangan di luar gudang sebanyak 800 ton. Itulah yang kami salurkan untuk membantu menghidupkan dapur-dapur umum, termasuk jatah 300 gram per kepala setiap hari," jelas Budi.
Selain memperhitungkan ketahanan infrastruktur
gudang—seperti desain bangunan dan lantai yang dibuat tinggi guna mengantisipasi banjir bandang—pemupukan stok ini juga dipersiapkan untuk menghadapi eskalasi geopolitik dunia, termasuk gangguan rantai pasok global dari negara-negara eksportir.
Salurkan Bantuan Pangan Gratis di SumutDi tengah upaya pengamanan cadangan pangan nasional, Bulog Sumut saat ini mengelola stok beras sebanyak 52.177.680 kg yang dialokasikan bagi 1.739.256 jiwa penerima bantuan di seluruh wilayah Sumatera Utara, di mana masing-masing berhak mendapatkan 30 kg beras gratis.
Baca Juga: Tuntas Jalankan Tugas HUT Ke-81 RI, Wagub Sumut Lepas Pemulangan 74 Paskibraka Hadirnya program ini telah menunjukkan progres signifikan. Hingga saat ini, Bulog mencatat realisasi penyaluran sebanyak 1.041.600 ton yang tersebar di 9 kabupaten/kota, yaitu:1. Deli Serdang2. Tebing Tinggi3. Asahan4. Mandailing Natal5. Labuhanbatu6. Labuhanbatu Selatan7. Nias Utara8. Karo9. Pakpak BharatSementara itu, untuk sisa wilayah kabupaten/kota lainnya di Sumut, pihak Bulog menyatakan masih memerlukan tahapan sosialisasi lanjutan akibat adanya penyesuaian terkait jumlah bantuan