MATATELINGA, JAKARTA -Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) menandai tonggak penting kerjasamadengan Hamaren Corporation melakukan penandatanganan kesepakatan MoU dengan Hamaren Corporation untuk menyalurkan pekerja magang ke Jepang.
"Pada kesempatan ini kita mau action untuk menjalin kerjasama dalam perekrutan dan penempatan calon peserta untuk mengikuti pendidikan bahasa Jepang serta program penempatan pemagangan ke Jepang," kata Ketua Umum DPP GPEIKhairul Mahalli di Jakarta, Rabu (4/9/2025).
Khairul mengatakan bahwa pihaknya siap bersinergi dan berkolaborasi dalam perekrutan dan penempatan calon peserta untuk persiapan pemagangan ke Jepang dengan semua pihak terutama lembaga-lembaga pendidikan.
"Tujuannya untuk memberikan mereka pelatihan keterampilan sehingga siap mengikuti program pemagangan. Dari sini mereka diharapkan menjadi tenaga kerja profesional dan siap ditempatkan bekerja di perusahaan Jepang," bebernya.
Baca Juga: Daya Saing Produk RI Masih Rendah, ASDEKI Nilai NLE Belum Optimal Pada momen penandatanganan ini juga dihadiri Usman Naito sebagai CEO dan Founder Hamaren Corporation, Lafi Afifah Managing Director Hamaren Corporation dan Alma Azzahra Secretary PT Hama Work Solution.
Sementara itu Usman Naito CEO dan Founder Hamaren Corporation mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki pengalaman untuk menyalurkan tenaga kerja melalui program penempatan pemagangan ke Jepang.
Sejak berdiri 2017, Hamaren Education Center telah mengirimkan peserta magang hingga angkatan ke-129 dan mengelola lebih dari 1.200 orang di Jepang termasuk peserta magang dan pekerja skill berstatus SSW atau Engineering.
Ia mengatakan bahwa sekolah pelatihan keterampilan profesional Hamaren telah memiliki 10 pusat pelatihan yang tersebar di Pulau Jawa seperti Bekasi, Kudus, Subang, Indramayu, Yogyakarta, Lebak, Majalengka dan Cianjur.
Baca Juga: Rico Waas Bahas Peluang Investasi dan Kerjasama Dengan Konsul Amerika Serika Melalui kerjasama dengan GPEI, Usman Naito berharap bisa menyalurkan sumber daya manusia yang unggul untuk bekerja magang di Jepang, sehingga nanti kalau mereka kembali ke tanah air bisa memberikan dampak positif membangun negeri.
"Kita banyak orang, tapi SDM yang cocok di Jepang ternyata tidak gampang. Bagaimana kita tidak hanya mengekspor tenaga kerja blue color yang 5 tahun, namun lembaga kami satu-satunya memikirkan jangka panjang melalui program karir paspor selama 15 tahun," katanya.
Tidak hanya menyalurkan tenaga kerja terampil, Hamaren juga mendorong tenaga kerja RI untuk melanjutkan program pendidikan yang lebih tinggi. Mereka memberikan pilihan untuk kuliah secara daring guna mendapatkan gelar sarjana. Pihaknya telah bekerjasama dengan lembaga pendidikan di dalam negeri seperti Binus, Universitas Terbuka dan Mercubuana.
"Kita berikan kuliah online sehingga nanti 5 tahun dari blue color yang paling bawah nanti bisa dapat ijazah S1 dapat pengetahuan lebih lalu dia bisa menjadi insinyur," ujarnya.
Dari sini Hamaren bisa merekomendasikan pekerja untuk mendapatkan lisensi lokal dan internasional sehingga mereka bisa memperoleh status yang sama dengan penduduk lokal.
Diharapkan setelah bekerja selama 15 tahun di Jepang, pekerja Indonesia tidak hanya bisa memperoleh materi namun juga pengetahuan dan pengalamanan yang dia peroleh selama bekerja.
"Kita bikin program mereka mendapat gelar sarjana, pulang bukan hanya membawa uang saja tapi pengetahuan hingga saat tiba waktunya pulang bisa membangun wilayahnya masing-masing," beber Usman.
Baca Juga: Tokoh itu tewas dipancung tentara Jepang di Ancol tanggal 3 Juli 1945