Ia memastikan tidak ada eksploitasi dalam kegiatan produksi. Menurut dia, warga binaan tetap menerima premi dari keuntungan bersih dari penjualan produk, dan sebagian di antaranya wajib ditabung sebagai bekal setelah bebas.
"Minimal separuhnya disimpan. Ini untuk modal awal mereka nanti, tapi tetap fleksibel jika ada kebutuhan mendesak," ujarnya.
Lapas Perempuan Bandung juga tengah merintis Koperasi Merah Putih sebagai wadah pemasaran sekaligus sarana pembinaan berkelanjutan. Warga binaan bahkan dapat tetap menjadi anggota setelah bebas. Berbagai pelatihan seperti salon, batik, bakery, hingga kerajinan tangan disambut antusias. Sejumlah warga binaan mengaku mulai mampu menghasilkan karya dalam waktu singkat, termasuk yang belajar menjahit hanya dalam dua pekan.
Ditjenpas Jawa Barat turut mencatat keberhasilan beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang mampu menembus pasar internasional, salah satunya melalui ekspor produk berbahan sabut kelapa ke Jepang, Spanyol, dan negara Eropa lainnya. Gayatri menambahkan, seluruh pelatihan diberikan tanpa biaya.
"Pelatihan ini tidak hanya membekali keterampilan, tetapi membangun kepercayaan diri," katanya.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa pembinaan pemasyarakatan kini tidak semata berfokus pada pemidanaan, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki harapan, kemandirian, dan peluang kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.