MATATELINGA - Batu : Rembug Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional yang berlangsung di Kota Batu, Jawa Timur, kembali mengukuhkan HM Yadi Sofyan Noor sebagai Ketua Umum KTNA Nasional untuk periode 2026-2031.Dalam pemilihan yang berlangsung di Royal Batu, Minggu (20/9/2026), Sofyan terpilih secara aklamasi. Amanah tersebut kembali dipercayakan kepadanya setelah mendapat dukungan dari para ketua KTNA provinsi di seluruh Indonesia.
Usai terpilih, Sofyan menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar
KTNA yang selama ini memberikan dukungan, dan amanah yang kembali diberikan kepadanya.
"Terima kasih kepada para ketua provinsi karena masih mempercayai saya untuk memegang amanah organisasi," ujar Sofyan dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay sesaat setelah Rembug Paripurna KTNA Nasional di Kota Batu ditutup.
Baca Juga: Polres Labuhanbatu Gelar Patroli Di Sepanjang Ruas Jalinsum dan Tempat Keramaian Sofyan mengatakan, kepemimpinannya pada periode 2026-2031 akan berpijak pada program kerja yang telah dirumuskan bersama dalam
Rembug KTNA Nasional.
Menurut dia, ketua umum bukan semata-mata membuat program sendiri, melainkan menjalankan keputusan dan program yang telah disepakati bersama oleh seluruh elemen organisasi.
"Kalau bicara langkah
KTNA Nasional ke depan, kita sudah membuat program kerja. Tugas ketua umum adalah melaksanakan apa yang dibuat teman-teman dalam program kerja tersebut," katanya.
Sofyan menegaskan, KTNA akan terus memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian, kelautan dan kehutanan.Sebagai organisasi yang berakar hingga tingkat kelompok tani dan nelayan di desa-desa, KTNA memiliki posisi strategis dalam mengawal berbagai program pemerintah agar benar-benar sampai kepada pelaku utama di lapangan.
Baca Juga: Sumrambah, Rembug Paripurna KTNA di Batu Menatap Pertanian Cerah, Modernisasi Jadi Jalan Tingkatkan Kesejahteraan Petani "
KTNA selain melakukan sinergi dengan pemerintah, kita memang mitra. Apa pun program Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Kementerian Kehutanan, kita siap melaksanakan," ujarnya.
Ia menjelaskan, kekuatan KTNA berada pada struktur organisasi yang tumbuh dari bawah, mulai dari kelompok, desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional.
Karena itu,
KTNA menurut Sofyan bukan organisasi yang sekadar diisi oleh orang-orang yang ditunjuk, tetapi merupakan organisasi profesi yang anggotanya berasal dari kalangan pelaku pertanian dan kelautan.
"Profesi kita petani, nelayan, pekebun, peternak. Rata-rata pengurus KTNA pasti petani, pekebun, peternak," katanya.
Baca Juga: Bersama KTNA, Petani Sejahtera: Rembug KTNA Digelar di Kota Batu, 19–20 September 2026 Sofyan juga menyoroti pentingnya mengubah citra pertanian agar tidak lagi identik dengan pekerjaan berlumpur, berat dan kurang menjanjikan. Menurut dia, perkembangan teknologi telah mengubah wajah pertanian Indonesia.
KTNA, kata Sofyan, mendorong konsep KTNA Maju Sejahtera, di mana kemajuan dimulai dari pemanfaatan teknologi, perubahan pola pikir dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman.
"Kalau sudah bicara kemajuan teknologi, baru kita bicara kesejahteraan. Poinnya ada di situ," katanya.
Ia menyebut penggunaan drone, smartphone hingga berbagai teknologi pertanian lainnya kini mulai menjadi bagian dari kehidupan petani. Bahkan, pekerjaan di sawah semakin banyak yang menggunakan mesin sehingga ketergantungan pada tenaga fisik manusia semakin berkurang.
Baca Juga: Bisnis Gelap Sabu Di Desa Sei Tampang Digagalkan Tim Sat Res Narkoba Polres Labuhanbatu Modernisasi tersebut sekaligus diharapkan menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor ekonomi masa depan.Sofyan menilai petani masa kini tidak cukup hanya mampu menghasilkan komoditas. Petani juga harus mampu menghitung biaya produksi, membaca pasar dan menciptakan nilai tambah.
"Setiap KTNA pasti punya analisa usaha tani. Pada saat memilih kegiatan yang akan dilakukan, menanam apa pun, pasti berhitung, termasuk pasarnya," katanya.
Karena itu,
KTNA mendorong petani agar tidak berhenti menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah. Komoditas harus diolah sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ia mengambil contoh singkong. Menurutnya, singkong tidak harus selalu dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi keripik, produk crispy dan berbagai produk pangan lainnya yang memiliki peluang masuk ke pasar modern.
Baca Juga: "Ratu Sabu Dan Ekstasi" Dari Desa Aek Hitetoras Marvau - Labura "Petani tidak lagi semata-mata pelaku pertanian, tetapi juga muncul jiwa wirausahanya. Kita sudah berpikir nilai tambah," ujar Sofyan.
Menurut dia, langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari agenda hilirisasi yang tengah didorong pemerintah. Sejumlah pelaku usaha tani bahkan telah mampu membawa produk olahan pertanian ke pasar ekspor.
Ia mencontohkan komoditas bawang yang diolah menjadi produk pangan siap konsumsi dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Di sisi lain, Sofyan menegaskan KTNA akan terus memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi dan keanggotaan sebagai bagian penting dari keberlanjutan organisasi.
Baca Juga: Kilang Batu Bata di Pagar Merbau Hangus Terbakar "Ke depan tetap melakukan konsolidasi organisasi. Itu poin pentingnya," katanya.