Kemarau Datang, Produksi Tetap Jalan karena Mitigasi Sudah Disiapkan

Admin - Kamis, 08 Oktober 2026 20:00 WIB
Matatelinga/Istimewa
Hanan A. Rozak, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Dapil Lampung II

MATATELINGA - Jakarta : "Kalau kemarau datang, kita tidak perlu lagi menunggu komando. Polanya sudah ada, siapa melakukan apa sudah jelas, dan semua langsung bergerak."

Pandangan itu dikemukakan Hanan A. Rozak, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Dapil Lampung II, untuk menggambarkan pentingnya membangun pola mitigasi kemarau yang terencana di sektor pertanian. Menurut Hanan, kekeringan tidak semestinya baru direspons ketika sawah mulai kehilangan pasokan air.

Gagasan tersebut disampaikan Hanan dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu Host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info.

Baca Juga: Pemprov Sumut Kembangkan 9.624 Hektare Bawang Putih, Dorong Kemandirian Pangan

Hanan, yang juga Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Lampung, menilai pengalaman berhasil dalam menghadapi kemarau sekarang harus menjadi dasar untuk membangun pola kerja yang lebih siap, terukur, dan berkelanjutan ke depan.

Menurutnya, ketika tanda-tanda kemarau mulai terlihat, seluruh unsur yang berkaitan dengan produksi pertanian harus sudah memahami langkah yang perlu dilakukan. Pemerintah menyiapkan dukungan, penyuluh melakukan pendampingan, sedangkan petani menyesuaikan pola budidaya dengan kondisi di lapangan.

Seperti kondisi pertanian di kawasan Rawapitu, Tulang Bawang, Lampung. Di tengah musim kemarau, hamparan sawah di wilayah tersebut masih dapat berproduksi karena ketersedian air relatif terjaga. Ada strategy yang bekerja dalam merawat air.

Menurutnya, air merupakan faktor mutlak dalam budidaya padi. Namun, keberadaan sumber air saja tidak cukup. Air harus dikelola melalui infrastruktur yang memadai, mulai dari jaringan primer, sekunder hingga tersier.

Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan, Polres Binjai Kirim 8 Ton Jagung ke Bulog Medan

Jika salah satu mata rantai jaringan irigasi tidak terpelihara, air yang tersedia tidak otomatis dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.

"Air ini kalau tidak dikelola, ya tidak ada manfaatnya juga," ujarnya.

Karena itu, pemeliharaan infrastruktur air harus dilakukan secara berkelanjutan. Ketika kemarau diperkirakan datang, kesiapan sumber air, jaringan irigasi, pompa, hingga kebutuhan energi perlu diperhitungkan sejak awal.

Dengan pendekatan tersebut, penanganan kekeringan tidak berhenti pada penyediaan pompa atau pencarian sumber air alternatif, tetapi menjadi bagian dari perencanaan produksi secara keseluruhan.

Baca Juga: HM Yadi Sofyan Noor Kembali Pimpin KTNA Nasional 2026-2031, Dorong Petani Makin Modern dan Berjiwa Wirausaha

Hanan juga menekankan pentingnya memperhitungkan aspek ekonomi dalam penggunaan teknologi pengairan. Sumur bor dan pompa memang dapat menjadi solusi di wilayah tertentu, tetapi pengoperasiannya membutuhkan energi dan biaya. Karena itu, pemanfaatannya harus disesuaikan dengan karakter komoditas, masa panen, serta nilai tambah yang diperoleh petani.

Di sisi lain, kondisi sektor pertanian saat ini dinilai semakin memberikan dorongan bagi petani untuk tetap berproduksi. Ketersediaan pupuk, benih unggul, mesin pertanian untuk pengolahan lahan hingga panen, serta dukungan terhadap harga hasil produksi menjadi bagian penting dari ekosistem usaha tani.

Menurut Hanan, kepastian ekonomi tersebut turut mengubah cara pandang terhadap profesi petani. Jika dahulu petani kerap identik dengan pekerjaan yang kurang menjanjikan, kini usaha tani mulai memiliki daya tarik karena memberikan peluang ekonomi yang lebih baik.

Perubahan itu juga penting untuk mendorong regenerasi petani. Generasi muda, kata Hanan, akan lebih mungkin kembali ke desa apabila pertanian mampu memberikan masa depan yang layak dan bermartabat.

Baca Juga: Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tingkatkan Kualitas MBG, TPID Sumut Dorong Tata Kelola Dapur Gizi Lebih Baik

Ia bahkan membayangkan, dalam sebuah keluarga petani, setidaknya ada satu dari anak-anak mereka yang bersedia meneruskan usaha tani orang tuanya. Bukan karena tidak memiliki pilihan lain, melainkan karena pertanian memang menjadi pilihan yang menjanjikan.

Dalam konteks yang lebih luas, Hanan melihat ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan besarnya produksi. Ketersediaan air, infrastruktur, sarana produksi, teknologi, harga, pasar dan kualitas pendampingan harus bergerak dalam satu ekosistem.

Di sinilah mitigasi kemarau menemukan maknanya. Kekeringan memang tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya terhadap produksi dapat ditekan apabila persiapan dilakukan lebih awal dan setiap unsur memahami perannya.

Pengalaman di sejumlah kawasan pertanian yang tetap berproduksi di tengah kemarau menunjukkan bahwa keterbatasan air bukan selalu berarti berhentinya budidaya.Dengan pengelolaan yang tepat, dukungan sarana yang memadai dan perencanaan yang matang, aktivitas pertanian tetap dapat berjalan.

Baca Juga: BPS Mencatat, Inflasi Labuhanbatu Agustus 2026 Sebesar 5,10 Persen Tertinggi Di Sumatera Uttara

Pesan Hanan sederhana tetapi mendasar: ketahanan pangan tidak dibangun saat persoalan sudah terjadi. Ia dibangun jauh sebelumnya, melalui kesiapan air, infrastruktur, teknologi, sarana produksi, pendampingan, dan kepastian ekonomi bagi petani.

Kemarau boleh datang. Namun, dengan mitigasi yang dipersiapkan sejak dini, musim kering tidak harus berubah menjadi musim berhentinya produksi.

Baca Juga: El Nino Picu Kekeringan 50.000 Hektare Lahan, Mentan Buka-bukaan Stok Beras di RI

Editor
: James Pardede

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Pemprov Sumut Kembangkan 9.624 Hektare Bawang Putih, Dorong Kemandirian Pangan

Nasional

Dukung Ketahanan Pangan, Polres Binjai Kirim 8 Ton Jagung ke Bulog Medan

Nasional

HM Yadi Sofyan Noor Kembali Pimpin KTNA Nasional 2026-2031, Dorong Petani Makin Modern dan Berjiwa Wirausaha

Nasional

Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tingkatkan Kualitas MBG, TPID Sumut Dorong Tata Kelola Dapur Gizi Lebih Baik

Nasional

BPS Mencatat, Inflasi Labuhanbatu Agustus 2026 Sebesar 5,10 Persen Tertinggi Di Sumatera Uttara

Nasional

El Nino Picu Kekeringan 50.000 Hektare Lahan, Mentan Buka-bukaan Stok Beras di RI