MATATELINGA - Nganjuk : Penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai membangkitkan optimisme petani terhadap peningkatan produktivitas sekaligus pemulihan ekosistem lahan pertanian. Melalui pendekatan budidaya yang mengedepankan pupuk organik dan pengendalian hama secara hayati, program Kementerian Pertanian ini diharapkan mampu mendorong produksi padi melampaui 10 ton per hektare.
Optimisme tersebut disampaikan Heri Subiyanto, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) PPPK yang membina Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten
Nganjuk, dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info (29/10).
Heri menjelaskan, penerapan PM-AAS di Kelompok Tani (Poktan) Widodo, desa Betet, dimulai dengan penanaman pada akhir Juli 2026 menggunakan varietas padi Inpago 13 Fortis.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Perkuat Kesiapan Stok Pupuk Subsidi Jawa Timur untuk Musim Tanam Oktober 2026 Menurutnya, salah satu perubahan mendasar yang dibawa
PM-AAS adalah mengubah kebiasaan petani dalam mengelola lahan. Selama ini, penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia secara berlebihan telah berdampak terhadap kerusakan ekosistem pertanian.
Akibatnya, mikroorganisme tanah tidak lagi berfungsi optimal, musuh alami hama semakin berkurang, dan struktur tanah mengalami kerusakan.
"Melalui
PM-AAS, kita menggugah kesadaran petani untuk mengembalikan ekosistem lahan pertanian seperti yang diharapkan. Harus ada keseimbangan ekologi agar predator atau musuh alami dapat hidup dan membantu memangsa hama yang berkembang di lahan pertanian," jelas Heri.
Dalam penerapannya, PM-AAS memberikan perhatian khusus pada penggunaan pupuk organik serta pengendalian organisme pengganggu tanaman melalui Agensia Pengendali Hayati (APH).
Baca Juga: Tri Wahyudi dan Persahabatan Panjang dengan KTNA: Dari Rembug Paripurna Petani Menuju Kemajuan Pertanian Indonesia Menariknya, APH tersebut dapat diproduksi sendiri oleh kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), kemudian dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh anggota. Dengan demikian, petani tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan sarana pengendalian hama secara mandiri.
Heri menilai, pendekatan ini memberikan sejumlah keuntungan bagi petani. Selain menekan biaya usaha tani, teknologi PM-AAS relatif mudah diterapkan. Pertumbuhan tanaman juga dinilai lebih baik, tidak mudah mengalami stres, dengan populasi tanaman yang padat dan perkembangan bulir yang menjanjikan.
Pengendalian hama dan penyakit pun dilakukan melalui pendekatan hayati dengan memanfaatkan APH yang telah dikembangkan kelompok tani.
Dari sisi produktivitas, Heri menyebut hasil panen yang selama ini menjadi capaian petani berkisar 6,9 hingga 7 ton per hektare. Dengan performa pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang terlihat saat ini, ia optimistis penerapan PM-AAS berpeluang meningkatkan hasil panen hingga lebih dari 10 ton per hektare.
Baca Juga: HM Yadi Sofyan Noor Kembali Pimpin KTNA Nasional 2026-2031, Dorong Petani Makin Modern dan Berjiwa Wirausaha "Target kita tentu lebih dari 10 ton per hektare. Kalau melihat pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi saat ini, performanya sangat bagus. Mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan harapan petani," ungkapnya.
Lebih dari sekadar mengejar peningkatan produksi, penerapan PM-AAS di dpesa Betet menjadi momentum membangun kembali kesadaran petani tentang pentingnya pertanian yang sehat dan berkelanjutan.
Sebab, produktivitas tinggi tidak cukup hanya ditopang oleh penggunaan input pertanian secara masif. Kesuburan tanah, keberadaan mikroorganisme, keseimbangan ekosistem, serta kemampuan petani mengelola organisme pengganggu tanaman merupakan bagian penting dari keberlanjutan usaha tani.
Melalui pendampingan penyuluh dan partisipasi aktif kelompok tani, PM-AAS diharapkan menjadi model transformasi pertanian modern yang tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menekan biaya usaha tani dan memulihkan kesehatan lingkungan persawahan.
Baca Juga: Sumrambah, Rembug Paripurna KTNA di Batu Menatap Pertanian Cerah, Modernisasi Jadi Jalan Tingkatkan Kesejahteraan Petani Dari desa Betet,
Nganjuk, sebuah pesan penting mengemuka: pertanian modern bukan semata-mata soal teknologi dan peningkatan produksi, melainkan juga bagaimana mengembalikan keseimbangan alam agar petani semakin sejahtera dan pertanian Indonesia semakin kuat.