Cahaya Obor Penyintas Banjir Tetap Menyala Sambut Ramadhan di Sekumur

Redaksi - Rabu, 18 Februari 2026 06:52 WIB
Matatelinga
Pawai obor sambut Ramadhan.

MATATELINGA, Aceh Tamiang:Di tengah sisa lumpur yang belum sepenuhnya mengering, cahaya obor tetap menyala di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa malam (17/02/2026).

Ratusan warga yang sebagian masih bertahan di tenda-tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap menggelar tradisi tahunan pawai obor menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Baca Juga: Kamis, Awal Puasa 1 Ramadhan 1447 H

Langkah-langkah kecil penuh semangat menyusuri jalan desa yang belum sepenuhnya pulih. Di antara tenda biru dan oranye serta puing-puing kayu sisa banjir, api-api kecil itu menyala hangat, menerangi wajah-wajah yang beberapa hari lalu dipenuhi kecemasan.

Dari Lumpur Menuju Cahaya Harapan

Tradisi tersebut digagas oleh seorang pemuda desa, Mat Isya. Di tengah kondisi kampung yang porak-poranda, ia mengajak para relawan dan pemuda untuk tetap menjaga semangat kebersamaan.

"Awalnya saya ngobrol santai dengan beberapa relawan untuk berinisiatif melaksanakan pawai obor. Ternyata mereka mengamini usulan itu, karena setiap tahun kami memang selalu mengadakan pawai obor menyambut Ramadhan," ujarnya.

Persiapan dilakukan secara sederhana.

Sehari sebelumnya, para pemuda bersama relawan mencari bambu, merakit obor, dan menyiapkannya bersama-sama. Tanpa panggung megah, tanpa perayaan besar hanya cahaya api dan semangat gotong royong yang menyatukan mereka.

Ramadhan, Penguat Jiwa Penyintas

Desa Sekumur saat ini masih dalam masa pemulihan. Sejumlah rumah rusak, sebagian bahkan rata dengan tanah. Namun malam itu, suasana berubah syahdu. Anak-anak, orang tua, hingga relawan berjalan beriringan, melantunkan takbir dan shalawat.

Bagi warga Sekumur, Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi penguat jiwa—momentum untuk bangkit dan menata ulang harapan yang sempat hanyut bersama derasnya banjir.

Cahaya obor yang berbaris sepanjang jalan desa menjadi simbol keteguhan hati. Di antara puing dan tenda pengungsian, api-api kecil itu tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menyalakan keyakinan bahwa setelah ujian, selalu ada harapan yang kembali tumbuh.

Di Sekumur, Ramadhan disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketabahan. Dan dari ketabahan itulah, harapan kembali dinyalakan.

Editor
: Putra

Tag:

Berita Terkait

Aceh

Banjir di Aceh Tamiang Rendam Sejumlah Desa, Ratusan Warga Mengungsi

Aceh

Rutan Tapaktuan Fasilitasi Sidang Virtual, Dukung Digitalisasi Layanan Tahanan

Aceh

BASAGA Aceh Selatan Dipertanyakan, Dinas Pertanian Belum Beri Penjelasan

Aceh

RSUD Yuliddin Away Tenderkan Pemeliharaan Gedung Rawat Inap Rp970 Juta

Aceh

150 Kg Sabu dari Aceh Gagal Masuk ke Sumut

Aceh

668 Bungkus Vape Getar Gagal Dibawa ke Aceh, Sudah 2 Kali Berhasil