Keluhan serupa disampaikan seorang petani di Gampong Lawe Buluh Didi yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Ia mengaku belum melihat traktor program BASAGA beroperasi di desanya. Menurut dia, petani masih menunggu layanan pembajakan gratis tersebut, sementara traktor kecil yang tersedia merupakan milik pribadi.
Baca Juga: Petani Kluet Utara Keluhkan Belum Terima Program BASAGA, Akses Air Sawah Juga Jadi Persoalan "Iya, sudah lama kami menunggu BASAGA. Sampai saat ini belum ada traktor yang datang ke gampong kami. Yang ada hanya traktor kecil, itu pun milik pribadi," keluhnya.
Keluhan warga tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan armada, penanganan traktor yang rusak, serta pemerataan pelaksanaan BASAGA di wilayah prioritas.
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, khususnya Dinas Pertanian, perlu memberikan penjelasan mengenai capaian pembajakan sawah di Kecamatan Kluet Timur, jumlah traktor yang beroperasi, penyebab kerusakan alat, serta langkah percepatan yang disiapkan untuk mengejar keterlambatan.
Baca Juga: BASAGA Aceh Selatan Dipertanyakan, Dinas Pertanian Belum Beri Penjelasan Keterangan dari dinas terkait juga diperlukan untuk memastikan apakah keterlambatan terjadi semata-mata akibat keterbatasan alsintan atau terdapat kendala teknis lain dalam pelaksanaan program.
Bagi petani, keberhasilan BASAGA bukan hanya diukur dari tersedianya program, melainkan juga dari ketepatan waktu layanan hingga lahan siap ditanami.