Sekira pukul 11.00 WIB, saat melintasi simpang empat Na Tinggir, rombongan kembali dihentikan lagi oleh orang yang sama dengan dan mereka meminta pekerjaan penanaman eucalyptus dihentikan karena menurut warga, lahan yang ditanami merupakan lahan warga Dusun Na Tinggir.
Terjadi perdebatan antara pihak perusahaan dengan kelompok tersebut di lokasi. Selama perdebatan, beberapa orang dari kelompok tersebut melemparkan tiga kantong plastik berisi bensin ke arah mobil Edy Sianturi. Lalu salah seorang dari kelompok tersebut menyalakan api dengan tujuan membakar mobil karyawan TPL. Api sempat menyala di bagian bawah kendaraan.
Akibat insiden ini, beberapa orang mengalami luka seperti Renhard Sitorus (petugas keamanan) mengalami luka bacok di kepala, Aldi Gea (pekerja mitra dari PT RBN) mengalami luka robek di kepala akibat lemparan batu, Prima Sihombing (karyawan TPL) mengalami lebam karena dipukul, Robinson Hutapea tokoh masyarakat mengalami pemukulan di bagian kepala. Sementara dari keterangan personil Polsek Habinsaran, korban dari Dusun Na Tinggir Tamrin Pasaribu dan Waleo Pasaribu.
Banyak masyarakat menduga jika ada peran KSPPM dibelakang kejadian tersebut. Camat Borbor James Pasaribu membenarkan jika Rokky Pasaribu dan Delima Silalahi berada di lokasi dusun Na Tinggir. Namun Rokky Pasaribu dan Dewi dari Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) tidak bisa dihubungi untuk dimintai keterangan kejadian tersebut melalui sambungan telepon 085252624955 dan 081394475484.
Baca Juga: Warga Pesisir Nusa Tenggara Barat, Waspadai Potensi Banjir Rob 7-11 Agustus