MATATELINGA, Hamparan Perak :Hampir sepekan pasca jembatan penghubung Desa Paya Bakung–Kelumpang ambruk dihantam banjir rob pada Jumat, 27 November 2025, belum ada satu pun langkah cepat dari pemerintah desa untuk menyediakan jembatan darurat maupun jalur alternatif. Kondisi ini memunculkan kekecewaan dan kritik tajam dari masyarakat yang merasa keselamatannya diabaikan.Kamis(04/11)
Hingga Rabu, 3 Desember 2025, warga masih terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi aliran sungai melalui pipa gas dan pipa PAM yang melintas di lokasi jembatan runtuh. Akses darurat yang improvisasi ini jelas sangat berbahaya dan tidak layak dijadikan pilihan bagi masyarakat, terlebih bagi anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, serta pekerja yang melintas setiap hari.
Baca Juga: Poldasu Bangun Jembatan di Tapteng Warga menilai pemerintah desa terkesan lamban, bahkan cenderung lepas tangan, padahal jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan dua desa dan menjadi jalur utama aktivitas ekonomi serta kebutuhan harian.
"Jangan tunggu ada korban jiwa dulu baru bergerak," keluh sejumlah warga yang sudah berhari-hari harus melewati pipa hanya demi bisa beraktivitas.
Baca Juga: Poldasu Bangun Jembatan di Tapteng Kondisi ini seharusnya mendapatkan respons cepat dari pemerintah desa, kecamatan, maupun BPBD Deli Serdang. Situasi darurat seperti ini idealnya segera ditangani dengan pembangunan jembatan darurat, penutupan area berbahaya, serta penyediaan jalur alternatif yang aman.
Ketiadaan tindakan nyata hingga saat ini dianggap sebagai bentuk kelalaian dan lemahnya manajemen kedaruratan di tingkat desa. Masyarakat mendesak Muspika Hamparan Perak dan Pemkab Deli Serdang untuk turun langsung memastikan keamanan warga, sebelum tragedi lebih besar terjadi.
Ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur — ini soal nyawa dan tanggung jawab pemerintah kepada warganya..
Baca Juga: Kodam I/Bukit Barisan Membangun Jembatan Darurat Untuk Membantu Warga yang Terisolasi