Dari laporan visual, banjir mengalir cukup deras dan menghantam rumah, menyeret kendaraan hingga infrastruktur lain yang dilewatinya. Arus air itu juga membawa material seperti lumpur, batang pohon, puing bangunan dan sampah rumah tangga.
Sementara untuk tanah longsor, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, Huta Tonga dan Sibual-buali di Kecamatan Sibolga Utara. Berikutnya Kelurahan Parombunan dan Aek Mani di Kecamatan Sibolga Selatan, Kelurahan Pancuran Bambu, Pancuran Dewa dan Pancuran Kerambil di Kecamatan Sibolga Sambas. Selanjutnya Kelurahan Pasar Belakang, Pasar Baru dan Pancuran Gerobak di Kecamatan Sibolga Kota.
Bencana demi bencana yang melanda Sumatera harus menjadi pembelajaran bagi kita. Siapa yang salah dalam bencana ini? Mari merenung dan melakukan refleksi terhadap apa yang telah kita perbuat sepanjang perjalanan hidup kita. Boleh jadi, ada oknum atau instansi yang mencoba keberuntungan dengan merambah hutan, merusak hutan demi untuk membuka lahan sawit.
Baca Juga: Ketua DPRD Medan Lepas Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana Banjir dan Longsor di Aceh Tamiang Untuk daerah perkotaan, kita sering lupa masalah membuang sampah. Seringkali kita dengan mudahnya membuang sampah di pinggir jalan atau bahkan ke sungai dan ke saluran air. Dampaknya, saluran air tersumbat dan mengakibatkan banjir.
Cuaca yang boleh dikatakan kurang mendukung harus jadi pembelajaran bagi kita semua. BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Masyarakat diimbau untuk memantau informasi prakiraan cuaca secara berkala dan mengikuti instruksi resmi dari petugas di lapangan. Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng perbukitan, bantaran sungai, dan wilayah rawan longsor dapat melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman apabila hujan lebat mengguyur wilayah tempat tinggal lebih dari satu jam.
Dengan refleksi tahun 2025 ini, dan adanya bencana di beberapa wilayah harus menjadi pembelajaran dan momentum bagi kita untuk merenung apa yang telah kitab perbuat terhadap alam dan apakah kita ikut menjadi bagian dari perusak alam. Semoga memasuki tahun 2026 nanti, kita lebih bijaksana dalam mengantisipasi setiap bencana.