Nicolas Maduro" Operasi CIA AS Menangkap Penguasa Venezuela

Syamsir - Selasa, 06 Januari 2026 14:53 WIB
Zacky Antoni

MATATELINGA,Kota berpenduduk sekitar 3 juta jiwa, menjelang tengah malam Sabtu (3/1) mati lampu. Bukan sedang ada pemadaman bergilir, tapi itu adalah bagian dari strategi intelijen AS. Kota dengan tingkat pembunuhan salah satu yang tertinggi di dunia itu gelap gulita.

Saat itulah operasi rahasia CIA dimulai. Pukul 22.10 waktu Amerika, Presiden AS Donal Trump memberi perintah penangkapan Nicolas Maduro. Seorang politikus berpaham sosialis yang menjadi penguasa Venezuela sejak tahun 2013.

Baca Juga: Maduro Tiba di AS Setelah Penangkapan Dalam Operasi Militer

Dalam kegelapan malam itu, 150 pesawat tempur AS terbang rendah di laut Karibia dan dalam beberapa menit menguasai langit Venezuela. Serangan dilancarkan ke sejumlah target fasilitas militer dan bandar udara pesawat tempur. Ledakan keras terdengar di beberapa titik menimbulkan kobaran api.

Serangan mendadak tersebut membuat pertahanan negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia itu lumpuh. Rudal anti pesawat tempur sudah dihancurkan. Jalur koordinasi militer "rusak" karena pengkhianatan di dalam pemerintahan. Tidak ada perintah membalas serangan.

Baca Juga: Maduro Tiba di AS Setelah Penangkapan Dalam Operasi Militer

Dalam situasi itulah, pasukan elit Angkatan Darat AS, Delta Force, bergerak. Personel Delta Force turun dari helikopter dan menyerbu masuk kediaman Presiden Nicolas Maduro yang dijaga ketat militer. Sebanyak 80 pasukan pengawal Presiden Maduro ditembak mati. Di sisi lain tidak satupun personel Delta Force yang menjadi korban.

Sebuah penyergapan luar biasa dan terencana rapi. Militer AS sebelumnya sampai membuat replika kediaman Maduro guna mempelajari strategi paling tepat untuk menembus tempat persembunyian berdinding baja milik Maduro. Serta menentukan opsi-opsi ketika penyerbuan terjadi.

Penyergapan berlangsung sesuai rencana. Rentetan tembakan terjadi. Puluhan pasukan pengawal presiden tergeletak tak bernyawa. Sebagian adalah militer Kuba yang turut membantu pengawalan Nicolas Maduro. Kuba dan Venezuela adalah dua negara di Amerika yang sama-sama "kiri".

Maduro dan istri, Cilia Flores yang menyadari kediamannya telah diserbu mencoba lari ke tempat persenyumbunyian berdinding baja. Tapi Langkah penyelamatan itu sudah diperhitungkan Delta Force. Presiden berusia 63 tahun itu berhasil dibekuk sebelum sempat masuk ke ruang persembunyian anti tembakan.

Baca Juga: Amerika Serikat di Kecam Malaysia Menggunakan Kekuatan ke Venezuela,

Sejurus kemudian, sang presiden bersama istri langsung diamankan dan diterbangkan ke AS. Detail penyergapan ini bak tayangan di film-film hollywood. Setelah target berhasil diculik, militer AS meninggalkan Caracas dalam kondisi kacau. Dalam tempo 2,5 jam, operasi tuntas menangkap target.

Presiden Trump menonton operasi penangkapan Maduro dari klub pribaidnya di Florida. Dia menyaksikan detail-detail operasi seperti menonton siaran langsung di televisi. Gambar Trump sedang menonton operasi rahasia tersebut menyebar di berbagai media social.

Sabtu (3/1) pagi, Trump memuji operasi penangkapan Maduro dengan satu kata; brilian. Sebaliknya, dunia terkejut. Serangan terhadap territorial negara lain yang diikuti dengan penangkapan presiden negara tersebut, jelas-jelas melanggar hukum Internasional.

Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB menyatakan _"semua Negara Anggota harus menahan diri dalam hubungan internasionalnya dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun, atau dengan cara apa pun yang tidak sesuai dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa."_

Baca Juga: Presiden Venezuela Maduro Ditangkap AS, Tiba di New York

Pasal ini melarang penggunaan secara militer ke sebuah negara berdaulat. Pada pasal 51 memang terdapat pengucualian yaitu apabila untuk membela diri atau persetujuan Dewan Keamanan PBB.

Serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro menjadi penegasan AS ingin menjadi POLISI DUNIA. Trump telah merobek Piagam PBB dan menggantinya dengan hukum dirinya sendiri yaitu Doktrin Trump.

Setelah ditangkap, Maduro akan diadili di Pengadilan New York AS dengan tuduhan konspirasi terorisme-narkoba dan kepemilikan senjata api.

Akan tetapi dalam pidatonya, Trump juga menyebut motif ekonomi di balik serangan ke Venezuela. AS akan menguasai cadangan minyak Venezuela yang mencapai 303 miliar barel . Angka ini setara 19 persen dari cadangan minyak dunia yang berarti terbesar di dunia mengalahkan Cadangan minyak di Arab Saudi maupun Irak dan Iran.

Baca Juga: Akibat Narkoba, Pembalap Yang Berbakat Kariernya Hancur

Negara-negara di dunia terbelah. Ada yang mengecam agresi AS ke Venezuela seperti Cina, Rusia, Iran, Korut, Kolombia, Kuba, Brasil, Meksiko, Uruguay. Ada juga yang mendukung seperti Argentina, Paraguay dan Ekuador.

Lalu apa sikap Indonesia? Seperti biasa, pernyataan Kemenlu bersifat normatif. Menyerukan agar mengedepankan dialog dan menahan diri. "Penting bagi komunitas internasional untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka serta menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka," demikian bunyi statemen Kemenlu.

Terlepas pro dan kontra negara-negara di dunia, serangan terhadap Venezuela dan penangkapan Maduro oleh AS menegaskan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Prediksi bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun perang menunjukkan tanda-tandanya.

Dunia was-was menunggu siapa yang akan menjadi target AS berikutnya. Yang sudah jelas disebut Trump adalah Kolombia dan Kuba. Dan yang menjadi target aneksasi adalah Greenland.

Baca Juga: Trump Mengeluarkan Veto Pertamanya Pada Masa Jabatannya

Inikah awal Perang Dunia III? Waktu yang akan menjawab. Oleh : Zacky AntonyPenulis adalah wartawan senior di Bengkulu

Baca Juga: Negara Afrika Mencabut Semua Visa Untuk Warga Amerika Awal Tahun Ini

Editor
: Putra

Tag:

Berita Terkait

Opini

Jaksa Cabut Banding WNA Thomas terkait Perkara Satelit Kemhan, Benarkah Diintervensi AS?

Opini

Iran Mengancam AS, Akan Membidik Lokasi Lokasi Baru dengan Senjata Baru

Opini

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 1,7 Persen ke 6.429, Saham BYAN Merosot

Opini

Iran Mempertimbangkan Menyerang Aset Militer AS di Eropa, Jika Presiden Amerika ...?

Opini

Beralih ke Kompor Listrik Berpotensi Kurangi Gejala Asma hingga 70 Persen

Opini

Siapa Tim Terbaik Piala Dunia 2026 yang Diumumkan FIFA, Inilah Dia..?