Puluhan orang yang merupakan para pekerja tidak terima mereka diberhentikan bekerja. Kemudian security meminta agar diberikan jalan, namun dipalang sekitar 40 orang warga Natinggir dan akhirnya terjadi bentrok.
Menurut warga Natinggir Romenti Pasaribu, mereka memaksa pekerja berhenti bekerja karena lahan mereka adalah tanah adat.
"Kami tidak pernah berselisih dengan dusun 1,2,3. Ini semua murni karena TPL. Pelarangan kami lakukan karena lahan yang ditanami merupakan tanah adat kami dan sudah ajukan wilayah adat kami. Kami tak mungkin diam saja melihat tanah leluhur kami ditanami TPL," ungkap Romenti Pasaribu.
Baca Juga: APDESI Percut Sei Tuan Rayakan Ulang Tahun Ke-4 Forwakum Sumut Secara Kejutan Warga dusun 2, Nelson Hutapea membantah pernyataan Romenti Pasaribu.
Menurutnya, hanya ada 3 keturunan di Natinggir antara lain keturunan Op. Jongguran Simanjuntak, Op. Saur Pasaribu dan Op. Balongguk Pasaribu dan tidak pernah ada masalah dan yang lainnya merupakan pendatang.
Berbagai kekuatiran muncul akibat pertikaian tersebut hingga beritanya menyebar ke berbagai daerah membuat Desa Simare mencekam.
"Mereka-mereka merupakan pendatang yang setelah TPL beroperasi dan kami tidak pernah bertikai karena satu rumpun satu darah. Keterangan mereka tidak transparan mengenai kejadian sebenarnya, karena para korban dari pihak kami tidak disini. Mereka bisa menunjukkan tiga orang pelakunya dan mereka masih dimintai keterangan di Polres," lanjut Nelson Hutapea.
Nasib Hutapea juga menerangkan kejadian yang dialaminya. Nasib merupakan warga dusun 2 dan mengetahui kejadian awal. Awalnya mereka mendatangi Natinggir karena mereka mendengar kabar bahwa Edison Hutapea yang merupakan tokoh masyarakat mendapat pukulan kayu dan lemparan batu, ketika hendak mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai, padahal masih punya hubungan keluarga.