Teguh Santosa: Di Vladivostok Prabowo Sampaikan Cara Pandang Baru yang Berani

Redaksi - Jumat, 04 September 2026 14:15 WIB
Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis kemarin, 3 September 2026.
Dengan memanfaatkan posisi geografis Indonesia yang berada di titik silang antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, langkah Presiden dinilai sangat tepat untuk mengoptimalkan akses maritim ke belahan utara Pasifik.

Upaya Indonesia untuk membangun jembatan kemitraan yang lebih kukuh dengan Timur Jauh Rusia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) dipandang sebagai strategi diversifikasi pasar yang krusial di tengah tren fragmentasi geoekonomi global saat ini.

"Selama ini interaksi perdagangan kita dengan Rusia lebih dominan melalui rute barat yang panjang, padahal gerbang Vladivostok membuka koridor langsung melalui Pasifik yang jauh lebih efisien bagi ekspor komoditas maupun produk manufaktur nasional," papar Teguh.Teguh juga menilai refleksi Presiden Prabowo mengenai kesamaan bentang geografis kedua negara, sebagai dua bangsa dengan wilayah yang sangat luas dan tantangan menjangkau kawasan perbatasan, menunjukkan empati serta kedekatan psikologis antar-kedua negara.

Baca Juga: Respons Budi Arie, Gerindra: Kami Fokus Mengawal Program Prabowo yang Pro Rakyat

Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan Rusia sebagai negara terluas di dunia dinilai menjadi modal pemahaman bersama dalam merancang pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terluar. Di sisi lain, forum ini juga mempertemukan visi pembangunan Timur Jauh Rusia yang dicanangkan Presiden Putin dengan agenda ketahanan energi, pangan, dan konektivitas yang diprioritaskan oleh pemerintah Indonesia.Teguh menggarisbawahi bahwa pernyataan Presiden Putin yang menyebut kawasan Asia-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan utama dunia semakin mempertegas relevansi keterlibatan aktif Indonesia dalam forum ekonomi tersebut.Langkah diplomasi Presiden Prabowo di Vladivostok, lanjut Teguh, sekaligus membuktikan keteguhan Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan non-blok yang berlandaskan kepentingan nasional."Kepemimpinan diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak tanpa harus terikat dalam polarisasi blok politik mana pun," tegas pakar geopolitik tersebut.Teguh menambahkan bahwa visi "jalan raya Pasifik" ini perlu segera ditindaklanjuti dengan realisasi konektivitas maritim dan rute penerbangan langsung antara kota-kota pelabuhan Indonesia dengan Vladivostok.Menurutnya, penguatan armada pelayaran dan jalur logistik langsung merupakan kunci agar gagasan besar yang disampaikan Presiden di podium internasional dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh para pelaku usaha di dalam negeri.Sesuai dengan tema EEF ke-11, "The Far East: Development for the Benefit of the People", Teguh berharap kerja sama ini dapat memperluas peluang investasi hilirisasi industri, ketahanan pangan, riset teknologi, serta pendidikan tinggi antara kedua negara."GREAT Institute menyambut hangat inisiatif Presiden Prabowo di Vladivostok dan meyakini bahwa keterhubungan Pasifik ini akan menjadi tonggak baru bagi kemandirian ekonomi serta kemajuan maritim Indonesia di pentas global," pungkas Dr. Teguh Santosa. [


Editor
: Putra

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Pentingnya Menjaga Komunikasi dengan Negara Negara Anggota Nato

Nasional

Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh HPN 2027

Nasional

KSP Bersama Pemprov Sumatera Utara, Kementerian PU, ATR/BPN dan Hutama Karya Bahas Percepatan Penyelesaian Pembangunan Jalan Tol Binjai–Langsa

Nasional

Pelantikan SMSI Siantar-Simalungun, Wesly Silalahi Ajak Media Cerdaskan Masyarakat

Nasional

Pelepasan Kontingen Indonesia ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Nasional

Respons Budi Arie, Gerindra: Kami Fokus Mengawal Program Prabowo yang Pro Rakyat