MATATELINGA, Palas: Aksi mahasiswa yang menyebut ribuan laporan warga masyarakat mandek di Polres Padang Lawas menandakan ketidak mampunya, Kapolres Padang Lawas, AKBP Dody Yulianto dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan.
Hal ini di khawatirkan sangat tidak mampu mendukung agenda utama yang menjadi program kerja Kapolri, Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto dalam komitmen 100 hari kerjanya pemberantasan narkoba dan korupsi.
Baca Juga: Sambut Kapolda Sumut Baru, Polres Simalungun Siap Wujudkan Polri Profesional dan Humanis Kapolri yang baru dilantik secara resmi, 1 Oktober 2026 telah menetapkan komitmennya dengan tegas terkait penegakan hukum yang sejalan dengan agenda Astacita Presiden Prabowo Subianto. Menjadi target-target Kapolri yang dijabarkan kedalam arahan transformasi jangka menengah (2026-2029) serta langkah taktis pada program 100 hari pertama kerjanya.
Namun, Kapolres Padang Lawas saat dikonfirmasi melalui nomor telpon selular dan WhatsApp nya, Selasa (06/10-2026) tidak bisa dihubungi. Hal ini juga tidak mengherankan lagi bagi jurnalis, karena yang bersangkutan berkali-kali dilakukan konfirmasi tidak pernah memberi respon atau jawaban. Tergolong Kapolres kali ini sangat enggan dan tertutup terhadap jurnalis layak di
copot.
Lebih lanjut pada hari yang bersamaan dalam menindaklanjuti target Kapolri yang baru dilantik, MATATELINGA melakukan konfirmasi melalui WhatsApp AKP. Taufik Siregar, Kasat Resnarkoba Polres Padang Lawas yang juga putra asli Padang Lawas, mempertanyakan soal target dalam pemberantasan peredaran narkoba di Padang Lawas. Namun yang bersangkutan tidak bisa juga memberikan penjelasan, melainkan hanya menyampaikan, harapan dalam pemberantasan narkoba di Padang doank.
Baca Juga: Sambut Kapolda Sumut Baru, Polres Simalungun Siap Wujudkan Polri Profesional dan Humanis "Tentunya pemberantasan peredaran gelap narkoba harus sinergi dengan stakeholder dan seluruh lapisan masyarakat tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Aparat hukum," sebutnya.
Sementara pemberantasan peredaran narkoba di Padang Lawas masih tergolong lamban. Kendatipun ada penangkapan dari pihak kepolisian. Hal demikian yang menjadi pertanyaan publik, kenapa penangkapan terus, rekomendasi rehab berjalan. Peredaran narkoba tidak habis-habis, apakah seperti pernyataan massa aksi beberapa hari yang lalu dari Pegiat Anti Narkoba Indonesia (PANI) ada dugaan permainan oknum polisi ?
Baca Juga: Sambut Kapolda Sumut Baru, Polres Simalungun Siap Wujudkan Polri Profesional dan Humanis