Anggota Komisi III DPRD Medan, Agus Setyawan, mengaku sangat prihatin dengan ketimpangan ini. Saat ini, masyarakat yang taat membayar tagihan justru harus menderita akibat pemadaman
listrik bergilir. Pemadaman terjadi karena beban puncak yang terlalu tinggi tidak sanggup ditampung oleh pembangkit."PLN ngakunya defisit
listrik dan beban tinggi hingga harus ada pemadaman. Tapi di tanah garapan, ribuan masyarakat menetap menggunakan
listrik dan tidak bayar rekening. Itu bagaimana penertibannya?" kritik Agus dalam rapat yang dipimpin oleh Sekretaris Komisi III, David Roni Ganda Sinaga.Politisi PDI Perjuangan ini juga heran mengapa aliran
listrik di lahan ilegal tersebut seolah lancar dan sengaja difasilitasi oleh oknum tertentu, sehingga bertahun-tahun tidak tersentuh penertiban PLN.Selain perumahan liar, pencurian arus
listrik juga diduga marak dilakukan oleh pedagang angkringan di depan ruko-ruko warga.Menyoal defisit
listrik dibenarkan oleh Manajer PLN UP3 Medan, Hariadi Pulungan. Ia mengakui wilayah Sumatera Bagian Utara memang sedang defisit daya yang cukup besar, yaitu mencapai 63 Megawatt (MW).Angka tersebut muncul karena kebutuhan masyarakat saat beban puncak menembus 2.878 MW. Sementara itu, kemampuan pasokan dari seluruh pembangkit
listrik yang tersedia hanya mampu menghasilkan daya sebesar 2.815 MW.Hariadi memaparkan, bahwa maraknya pemakaian
listrik gratis di tanah garapan terjadi karena status tanah yang bermasalah. Wilayah tersebut merupakan lahan sengketa agraria eks HGU PTPN.Karena warga tidak memiliki alas hak atau sertifikat tanah yang sah, PLN secara aturan hukum tidak diperbolehkan menerbitkan meteran
listrik resmi di sana. Hal inilah yang memicu warga nekat menyambung arus secara ilegal.Meski begitu, Hariadi menjelaskan, petugas telah melakukan penertiban dan mendapat perlawanan dari masyarakat sekitar. "Tapi kami akan terus melakukan penertiban secara bertahap," ujarnya.Mengenai pedagang angkringan, PLN berjanji akan terus melakukan pendataan dan operasi penertiban
listrik liar demi menekan angka defisit daya.